Notification

×

Iklan

Iklan

Temuan Studi Terbaru, Kurangnya Interaksi dalam Pembelajaran Berdampak pada Kritisitas Siswa

10 November 2023 | Jumat, November 10, 2023 WIB | Last Updated 2023-11-10T05:55:51Z

 


Serambiupdate.com
Kesuksesan peserta didik dalam dunia pendidikan sangat tergantung pada mutu pembelajaran. Fakta ini didukung oleh penelitian kolaboratif terbaru antara University of South Australia, Flinders University, dan Melbourne Graduate School of Education. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari sepertiga guru melibatkan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yang kompleks. Hal ini berdampak pada keterbatasan peluang siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah.


Penelitian ini mengeksplorasi sejauh mana keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran yang mendalam dan konstruktif, serta dampaknya terhadap pencapaian hasil pembelajaran mereka.

 

17% Tugas Siswa Adalah Pembelajaran yang Dangkal

 

Mengutip informasi dari situs resmi University of South Australia, tim peneliti melakukan studi dengan melakukan observasi di ruang kelas di wilayah Australia Selatan dan Victoria. Dari hasil penelitian tersebut, disimpulkan bahwa hampir 70% dari tugas yang diberikan kepada peserta didik cenderung bersifat pembelajaran yang dangkal. Kegiatan seperti tanya jawab sederhana, mencatat, atau sekadar mendengarkan guru mendominasi interaksi peserta didik, sementara kegiatan yang melibatkan pemikiran lebih mendalam jarang terjadi.

Helen Stephenson dari University of South Australia menyoroti betapa pentingnya memberikan dukungan kepada para guru dalam merancang pengalaman belajar yang interaktif dan membangun.

 

“Ketika kita melihat pembelajaran, semakin besar keterlibatannya, semakin dalam pula pembelajarannya. Namun seringkali siswa melakukan pekerjaan yang pasif dan tidak melibatkan banyak orang,” katanya.

 

Sejauh Mana Pembelajaran Bisa Meningkatkan Pemikiran Kritis Siswa?

 

Penelitian ini mengklasifikasikan materi kelas ke dalam dua jenis, yaitu pasif dan aktif. Siswa terlibat dalam kegiatan sederhana setiap menjawab pertanyaan, dan menggunakan kerangka ICAP untuk mengkategorikan aktivitas pembelajaran siswa, sebagai berikut :

 

Pasif dijelaskan sebagai peserta didik yang mendengarkan pemaparan dari guru. Sementara aktif diartikan sebagai peserta didik menyimpulkan materi. Lalu konstruksi diartikan sebagai menyampaikan pertanyaan atau membuat diagram konsep untuk memperluas pemahaman. Dan interaktif adalah pembelajaran konstruktif melibatkan dua atau lebih peserta didik dalam proses menciptakan ide-ide baru.

 

Stephenson menyatakan bahwa interaksi yang terlibat di dalam kelas terjadi ketika peserta didik terlibat dalam kegiatan bersama peserta didik yang lain, yang kemudian mendorong mereka untuk mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam.

 

“Mereka membuat penilaian, mengusulkan dan mengkritik argumen dan pendapat, serta mencari solusi terhadap masalah. Kegiatan-kegiatan ini juga dapat membantu mereka mengembangkan pemikiran kritis dan keterampilan penalaran… semuanya merupakan prediktor peningkatan pembelajaran,” jelasnya.

 

Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa sekitar 70% materi pembelajaran di kelas dapat dianggap sebagai pasif, artinya dalam sebagai besar situasi, keterlibatan peserta didik terbatas dengan sedikit interaksi yang dapat diamati. Bahkan ketika peserta didik terlibat dalam kegiatan yang dianggap aktif, itu hanya melibatkan tindakan-tindakan sederhana seperti menjawab pertanyaan yang terdapat pada lembar fakta.

 

Meskipun peserta didik terlibat dalam kegiatan yang dianggap aktif, partisipasi mereka hanya melibatkan tindakan sederhana seperti menjawab pertanyaan yang terdapat dalam lembar fakta.

 

“Meskipun tugas-tugas seperti itu ada di ruang kelas, pembelajaran siswa akan jauh lebih baik ketika siswa menghabiskan lebih banyak waktu untuk melakukan aktivitas kompleks yang mendorong pembelajaran yang mendalam dan konseptual. Untuk mencapai pembelajaran yang mendalam, diperlakukan pengaturan pegetahuan ke dalam kerangka konseptual, yang akan meningkatkan retensi informasi dan memberikan dasar pengetahuan yang diperlukan untuk inovasi ,” kata Stephenson.

 

Metode Mengajar Guru yang Kurang Merangsang Siswa

 

Walaupun demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar guru mungkin belum sepenuhnya mengerti bagaimana tugas-tugas mereka dapat memotivasi partisipasi peserta didik dengan beragam metode.

 

Stephenson mengatakan jika melakukan perubahan dari aktivitas kelas yang bersifat aktif menjadi konstruktif dapat meningkatkan proses pembelajaran bagi peserta didik.

 

“Guru harus didukung untuk melakukan pengembangan profesional guna mengalihkan pemikiran mereka ke arah praktik yang mendukung pembelajaran lebih dalam dan hasil yang lebih baik bagi siswa,” tambahnya.

 

Dengan kata lain, hal ini menyoroti betapa pentingnya adanya dukungan dan pengembangan profesional bagi para guru agar mereka dapat mengubah metode pengajaran mereka menuju pendekatan yang mendukung pemahaman yang lebih dalam dan mencapai hasil yang lebih baik bagi peserta didik.

 

(Aliya Fisyara/adp)

=