Notification

×

Iklan

Iklan

Kesejahteraan Guru dalam Sorotan: Kaesang dan Isu Gaji Rp150 Ribu

15 November 2023 | Rabu, November 15, 2023 WIB | Last Updated 2023-11-27T14:19:12Z

Serambiupdate.com Kaesang Pangarep, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyatakan bahwa selama melakukan safari politik di berbagai wilayah di Indonesia, ia menemukan beberapa isu yang berkaitan dengan sektor pendidikan.

 

Saat kunjungannya ke Tasimalaya, Jawa Barat sebulan yang lalu, Kaesang Pangarep bertemu dengan seorang guru honorer yang menerima gaji sebesar Rp150 ribu per bulan, yang dibayarkan setiap tiga bulan sekali. Dalam pertemuan silaturahmi dengan tokoh lintas agama dan tokoh masyarakat Sumut di Medan, Sumatera Utara pada Senin (13/11),

 

Kaesang menyatakan bahwa menurutnya, elemen kunci keberhasilan dalam pendidikan adalah kesejahteraan guru.

 

Ia menekankan bahwa bagaimana seorang guru bisa memberikan pengajaran yang berkualitas kepada muridnya untuk menciptakan masa depan yang cerah jika kesejahteraannya tidak terpenuhi.

 

Di samping itu, Kaesang mencatat bahwa ia juga menemui disparitas dalam kualitas pendidikan dan kesejahteraan guru di berbagai daerah.

 

Misalnya, tingkat kesejahteraan guru di Kota Medan berbeda dengan di Nias, Tapanuli Selatan, atau Samosir.

"Yang saya harapkan adalah mencapai kesetaraan dalam pendidikan di seluruh Indonesia dengan meningkatkan kesejahteraan guru di seluruh negeri," ungkapnya.

 

Pemilik Sang Pisang itu juga menyoroti minatnya dalam pendidikan saat ini untuk menjadi seorang guru, dan salah satu faktornya adalah rendahnya kesejahteraan guru. Ini disebabkan oleh pandangan bahwa "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa."

 

"Saya ingin menghapus label ini terlebih dahulu. Menyebut guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, itu harus dihilangkan. Guru juga butuh tanda jasa agar mereka dapat hidup sejahtera. Tidak mungkin hanya murid yang sejahtera, sementara guru mengalami kesulitan ekonomi," ungkapnya.

 

Tidak hanya itu, Kaesang juga menyoroti temuannya saat mengunjungi Kupang awal bulan lalu, di mana ia menemui anak-anak yang mengalami kekurangan gizi. Kondisi ini dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk kualitas pemikirannya.

 

“Bagaimana bisa diharapkan proses belajar yang efektif jika kebutuhan gizi tidak terpenuhi? Mungkin kapasitas otak tidak dapat berkembang sebaik anak-anak di Medan dan Jakarta,” ujarnya.

 

Oleh karena itu, menurut Kaesang, diperlukan suatu keseimbangan antara kesejahteraan guru dan pemenuhan kebutuhan gizi di tingkat pendidikan dasar, menengah, dan atas (SD, SMP, dan SMA).

(Maymunah/Dyl)

=