Notification

×

Iklan

Iklan

PTM Terbatas: Selamatkan Anak Secara Fisik dan Psikis di Masa Pandemi

01 Oktober 2021 | Jumat, Oktober 01, 2021 WIB | Last Updated 2021-10-01T08:00:35Z


Nana Istiqomah

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat FIKES Uhamka 



Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang berjalan berlarut-larut membawa berbagai dampak bagi anak. Anak secara alami butuh bermain dan bersosialisasi dengan teman sebayanya yang bisa menjadi penunjang pertumbuhan. Namun, selama PJJ ini berlangsung anak-anak pun menjadi bosan dan mulai hilang semangat belajarnya, terlebih lagi kegiatan PJJ ini sudah berlansung hampir satun tahun setengah lebih.


Banyak pula orang tua yang kewalahan terhadap PJJ ini ada orang tua yang sibuk dengan kerjaannya, ada orang tua yang tidak mengerti materi sekolah anaknya, sehingga membuat PJJ anak di rumah tidak efektif. Terlebih lagi bagi para siswa yang kurang berkecukupan secara ekonomi atau tinggal di pedalaman  sehingga sulit mengikuti PJJ.


Karena selama PJJ ini para siswa lebih sering menggunakan gawai dalam kegiatan pembelajaran, maka Psikolog Elizabeth T. Santosa, penulis buku Raising Children in Digital Era (2015) dalam siaran YouTube FMB9ID_IKP tanggal 24 Juni 2021 mengatakan, tak kurang 65% anak sudah ketergantungan gawai, bahkan bisa sampai tantrum.


Disini dapat dipahami bersama bahwa penggunaan gawai ini cenderung membuat anak menjadi malas mengerjakan tugas, anak sulit berkonstrasi, dan anak malah menggunakain gawainya untuk bermain game.


Dampak PJJ berkepanjangan secara umum meliputi ancaman anak menjadi putus sekolah, penurunan prestasi belajar, hingga ancaman pada kesehatan mental serta psikis anak-anak. Hal tersebutlah yang menjadi perhatian Kemendikbud, sehingga memberlakukan kebijakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). Pembelajaran Tatap Muka Terbatas bisa digelar di wilayah PPKM Level 1-3. Tentu, PTMT harus memenuhi berbagai syarat yang ditetapkan sebagaimana panduan SKB 4 Menteri.


Pembelajaran tatap muka terbatas ini anak bisa bersosialisai kembali dengan teman-temannya di sekolah sehingga kesehatan mental pun tidak terjadi karena PPJ yang berkepanjangan. Di sisi lain, pandemi Covid-19 juga masih menjadi ancaman. Dengan begitu, upaya mencegah penularan Covid-19 demi menjaga keselamatan dan kesehatan anak tetap menjadi hal utama. Maka titik inilah, Pembelajaran Tatap Muka Terbatas dengan disiplin protokol kesehatan menjadi jalan tengah terbaik demi menyelamatkan anak. Baik menyelamatkan secara psikis maupun fisik.


Orang tua, guru, kepala sekolah, serta komite sekolah juga dibutuhkan kerjasama yang baik dalam membantu para anak dalam beradaptasi kembali ke lingkungan sekolah. Guru juga harus memberikan pembelajaran yang efektif dan maksimal dalam waktu pembelajaran tatap muka terbatas. Sehingga diwaktu yang sangat terbatas di sekolah anak mampu memahami pembelajaran secara baik.


=