Notification

×

Iklan

Iklan

Kerasukan: Antara Keyakinan Spiritual dan Realita yang Sering Disalahpahami

03 Juni 2026 | Rabu, Juni 03, 2026 WIB | Last Updated 2026-06-03T06:26:03Z

 


Kerasukan: Antara Keyakinan Spiritual dan Realita yang Sering Disalahpahami

Oleh: Munazakiyah

 

Pembuka

Siapa yang belum pernah dengar cerita tentang orang yang tiba‑tiba menjerit, bergoyang, bicara dengan suara lain, atau mengaku menjadi makhluk lain? Kita sering melihatnya langsung, atau mendengarnya dari orang sekitar. Kesimpulan pertama yang muncul hampir selalu satu: kerasukan.

Tapi memang sesederhana itu? Apakah semua orang yang merasakan kondisi itu selalu “dimasuki” makhluk gaib? Saya tumbuh dalam budaya kuat yang memiliki kepercayaan spiritual, sambil belajar psikologi. Semua orang harus membicarakan hal secara jujur, tanpa mengorbankan keyakinan, namun tanpa menutup mata pada fakta.

 

Kerasukan di Mata Masyarakat Kita

Fenomena kerasukan memang bukan hal baru. Dulu, kejadian kerasukan sudah jadi tontonan. Sampai sekarang, masih begitu. Orang yang kerasukan tiba‑tiba berubah total. Wajahnya berubah. Suaranya berubah. Tubuhnya bergetar. Orang itu menyebut nama yang tak dikenal. Masyarakat kita, terutama di lingkungan yang religius kuat, langsung mengaitkan kerasukan dengan jin, setan, atau roh gentayangan. Saya pernah menyaksikan sendiri perubahan itu.

Sebagai Muslim, Muslim tidak menolak keyakinan yang berakar pada agama. Islam mengakui adanya jin dan setan. Islam memiliki bukti bahwa jin dan setan dapat berinteraksi dengan manusia dalam situasi tertentu. Maka Muslim percaya kerasukan oleh syaitan itu nyata. Muslim mempercayai keyakinan itu.Dan sebagai Muslim, saya tidak akan menampik bahwa kepercayaan itu .

Tapi masalah muncul ketika penjelasan menjadi satu-satunya. Orang menangis histeris, orang pingsan mendadak, atau orang berperilaku aneh, orang langsung menyebut kerasukan jin. Tidak ada yang bertanya, “atau jangan-jangan ada yang lain juga?”

 

Ada Hal Lain yang Juga Perlu Kita Pertimbangkan

Psikologi sudah lama tahu kondisi yang tampak seperti kerasukan. Psikologi tidak menolak makhluk gaib. Psikologi menjelaskan bahwa tubuh manusia dan pikiran manusia sangat rumit ,  kadang tubuh manusia dan pikiran manusia menunjukkan hal yang tampak tak masuk akal. Namun ada penjelasan medis di balik kondisi itu.

Nah, salah satu contoh paling jelas ialah Dissociative Identity Disorder (DID). Dulu kondisi ini disebut gangguan kepribadian ganda. Seseorang yang menderita DID dapat berpindah ke kepribadian lain. Kepribadian lain itu punya suara, cara bicara, bahkan ingatan yang berbeda. Bagi orang yang melihat tanpa penjelasan, hal itu terlihat seperti kerasukan. Contoh lain ialah Conversion Disorder. Pada Conversion Disorder tekanan psikologis yang kuat berubah menjadi gejala fisik. Gejala fisik itu dapat berupa kejang, kehilangan suara, atau kelumpuhan sementara.

Faktor sosial dan budaya memainkan peran penting. Observasi dalam psikologi lintas budaya menemukan konsep yang disebut culture‑bound syndrome. Culture‑bound syndrome adalah kondisi psikologis yang hanya muncul atau dipahami dalam konteks budaya tertentu. Di banyak masyarakat Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kerasukan menjadi cara otak mengekspresikan tekanan yang tidak bisa diungkapkan secara langsung. Orang yang merasa tertekan, tidak didengar, atau mengalami trauma mendalam dapat tanpa sadar masuk ke kondisi trance sebagai pelarian psikologis.

Sugesti dan herd mentality harus disebut. Ketika satu orang di keramaian berteriak, orang lain langsung ikut merasakan teriakan. Bukan karena syaitan berpindah ke tubuh lain. Karena otak manusia mudah terpengaruh sugesti, terutama saat emosi dan ketakutan menguasai. Fenomena tersebut disebut mass psychogenic illness.

 

Lalu Di Mana Kita Berdiri?

Saya tidak mengajak siapa pun meragukan agama. Tidak sama sekali. Saya percaya, sebagai orang beriman, kerasukan karena syaitan memang ada. Kadang ada kondisi tertentu, lalu gangguan makhluk gaib muncul. Saya mengatasi gangguan makhluk gaib lewat jalur spiritual, misalnya ruqyah atau doa.

Saya percaya Allah menciptakan manusia dengan akal. Akal harus dipakai. Jadi, ketika seseorang kerasukan, jangan berhenti pada satu penjelasan. Orang harus menjalankan proses mengerti. Nah, apakah kerasukan merupakan gangguan spiritual? Atau apakah kerasukan berhubungan dengan kondisi psikologis atau medis? Mungkin kerasukan dan kondisi psikologis atau medis terjadi bersamaan.

Faktanya, selama bertahun‑tahun banyak orang pergi ke orang pintar atau ustaz untuk diruqyah. Orang itu butuh bantuan psikolog atau psikiater. Sebaliknya, orang lain cepat menyebut orang itu gangguan kejiwaan. Masalah orang itu bersifat spiritual. Kedua sikap itu berbahaya bila orang menutup pikiran.

 

Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Memahami dua kemungkinan penting. Bertindak atas pemahaman dua kemungkinan lebih penting. Pertanyaannya bukan lagi “kerasukan atau bukan?” tapi “langkah nyata apa yang bisa kita ambil supaya orang yang mengalaminya benar‑benar terbantu?” Berikut pendekatan. Saya yakin pendekatan‑pendekatan harus dipakai bersamaan, bukan dipilih satu.

 

1. Jangan Buru-buru Menyimpulkan , lihat Dulu dengan Tenang

Hal pertama yang paling penting: tahan diri, jangan beri label. Jika seseorang tiba‑tiba menangis histeris, menggeliat, atau bertingkah di luar kebiasaan, jangan langsung teriak “kerasukan!” di depan banyak orang. Label dapat menjadi sugesti. Sugesti dapat memperburuk kondisi orang tersebut.

Amati: apakah kondisi ini muncul pertama kali atau sudah pernah terjadi? Apakah ada pemicu emosional sebelumnya, misalnya konflik, tekanan, trauma? Apakah kondisi ini hanya muncul di keramaian atau juga di tempat sepi? Pertanyaan sederhana dapat memberi petunjuk awal yang lebih berguna daripada asumsi terburu-buru.

 

2. Jauhkan Kerumunan ,  Karena Penonton Adalah Bagian dari Masalah

Kerumunan ribut, panik, dan memberi saran memperparah episode ‘kerasukan’, baik spiritual maupun psikologis. Mass psychogenic illness yang saya sebut sebelumnya mudah menyebar dalam kondisi itu. Langkah praktis: jauhkan kerumunan, bawa orang tersebut ke tempat tenang, kurangi rangsangan berlebih, dan pastikan hanya satu atau dua orang tenang yang mendampinginya.

 

3. Tempuh Dua Jalur Sekaligus,  Spiritual dan Medis Bukan Musuh

Ini yang saya tekankan. Pendekatan spiritual tidak meniadakan pendekatan medis. Pendekatan spiritual dan pendekatan medis dapat berjalan bersamaan. Membaca Al‑Qur’an, berdoa, atau melakukan ruqyah syar’iyyah tidak mengurangi hasil pemeriksaan psikologis atau neurologis. Sebaliknya, orang yang tenang secara spiritual merespon terapi lebih mudah.

Saya percaya, kalau setelah penanganan spiritual kondisi tidak membaik atau malah kembali lagi secara rutin, kondisi tersebut menandakan kita harus bawa orang tersebut ke psikolog atau psikiater. Bukan karena orang tersebut tidak percaya agama. Karena kita bertanggung jawab atas kesehatan orang yang kita sayangi. Islam tidak pernah melarang berobat. Islam bahkan menyarankan berobat.

 

4. Bangun Literasi Psikologis di Lingkungan Sekitar

Sebagai pengamat, saya melihat bahwa masyarakat belum paham kesehatan mental. Ketidaktahuan ini menjadi salah satu penyebab masalah. Jika orang tidak tahu bahwa DID, Conversion Disorder, atau trauma psikologis memang ada, orang cepat menyangka perilaku aneh datang dari makhluk gaib. Solusi bukan menghilangkan kepercayaan spiritual, melainkan menambah pengetahuan baru sambil menjaga kepercayaan lama.

Mulailah dengan hal kecil. Bicarakan kesehatan mental di rumah tanpa rasa tabu. Ajak keluarga mengerti bahwa gangguan psikologis bukan aib, melainkan kondisi medis. Jangan gunakan kata “gila” yang menakutkan. Literasi rendah membuat banyak orang terlambat mendapatkan pertolongan tepat.

 

5. Perlakukan Orang yang Mengalaminya dengan Hormat dan Empati

Apa pun yang terjadi pada seseorang, masalah spiritual, masalah mental, atau gabungan keduanya, harus diingat satu hal: orang itu tetap manusia yang mudah terluka. Merekam video orang itu melanggar martabat orang itu. Mengejek orang itu melanggar martabat orang itu. Memakai cerita orang itu tanpa izin melanggar martabat orang itu.

Empati menjadi dasar semua solusi. Tanpa empati, orang hanya menonton drama, tidak menolong, dan situasi tidak berubah. Hal penting: orang yang merasa dihargai, orang yang merasa aman, orang yang tidak dihakimi akan pulih lebih cepat. Penanganan tidak mengubah empati.

 

Penutup

Fenomena kerasukan menunjukkan betapa rumitnya manusia. Manusia hidup di dunia fisik, dunia pikiran, dan dunia rohani. Jika kita menyebut semua itu kerja setan tanpa mencari penjelasan lain, kita menyederhanakan fenomena kerasukan. Jika kita menyederhanakan fenomena kerasukan, penanganannya bisa salah. Menutup semua kemungkinan hal gaib karena tidak terbukti secara ilmiah menandakan kesombongan intelektual.

Berani duduk di tengah menandakan kebijaksanaan. Berani percaya pada spiritual. Berani tidak menutup mata pada fakta empiris. Berani bertanya lebih banyak sebelum menyimpulkan. Berani mendengarkan lebih dalam sebelum menghakimi. Berani menghormati orang yang sedang mengalaminya ,  apa pun penyebabnya, orang butuh bantuan, bukan tontonan.

=