Kerasukan:
Antara Keyakinan Spiritual dan Realita yang Sering Disalahpahami
Oleh: Munazakiyah
Pembuka
Siapa yang belum
pernah dengar cerita tentang orang yang tiba‑tiba menjerit, bergoyang, bicara
dengan suara lain, atau mengaku menjadi makhluk lain? Kita sering melihatnya
langsung, atau mendengarnya dari orang sekitar. Kesimpulan pertama yang muncul
hampir selalu satu: kerasukan.
Tapi memang
sesederhana itu? Apakah semua orang yang merasakan kondisi itu selalu
“dimasuki” makhluk gaib? Saya tumbuh dalam budaya kuat yang memiliki
kepercayaan spiritual, sambil belajar psikologi. Semua orang harus membicarakan
hal secara jujur, tanpa mengorbankan keyakinan, namun tanpa menutup mata pada
fakta.
Kerasukan di
Mata Masyarakat Kita
Fenomena
kerasukan memang bukan hal baru. Dulu, kejadian kerasukan sudah jadi tontonan.
Sampai sekarang, masih begitu. Orang yang kerasukan tiba‑tiba berubah total.
Wajahnya berubah. Suaranya berubah. Tubuhnya bergetar. Orang itu menyebut nama
yang tak dikenal. Masyarakat kita, terutama di lingkungan yang religius kuat,
langsung mengaitkan kerasukan dengan jin, setan, atau roh gentayangan. Saya
pernah menyaksikan sendiri perubahan itu.
Sebagai Muslim,
Muslim tidak menolak keyakinan yang berakar pada agama. Islam mengakui adanya
jin dan setan. Islam memiliki bukti bahwa jin dan setan dapat berinteraksi
dengan manusia dalam situasi tertentu. Maka Muslim percaya kerasukan oleh
syaitan itu nyata. Muslim mempercayai keyakinan itu.Dan sebagai Muslim, saya
tidak akan menampik bahwa kepercayaan itu .
Tapi masalah
muncul ketika penjelasan menjadi satu-satunya. Orang menangis histeris, orang
pingsan mendadak, atau orang berperilaku aneh, orang langsung menyebut
kerasukan jin. Tidak ada yang bertanya, “atau jangan-jangan ada yang lain
juga?”
Ada Hal Lain
yang Juga Perlu Kita Pertimbangkan
Psikologi sudah
lama tahu kondisi yang tampak seperti kerasukan. Psikologi tidak menolak
makhluk gaib. Psikologi menjelaskan bahwa tubuh manusia dan pikiran manusia
sangat rumit , kadang tubuh manusia dan
pikiran manusia menunjukkan hal yang tampak tak masuk akal. Namun ada
penjelasan medis di balik kondisi itu.
Nah, salah satu contoh paling jelas ialah Dissociative
Identity Disorder (DID). Dulu kondisi ini disebut gangguan kepribadian ganda.
Seseorang yang menderita DID dapat berpindah ke kepribadian lain. Kepribadian
lain itu punya suara, cara bicara, bahkan ingatan yang berbeda. Bagi orang yang melihat tanpa penjelasan, hal itu
terlihat seperti kerasukan. Contoh lain ialah Conversion Disorder. Pada
Conversion Disorder tekanan psikologis yang kuat berubah menjadi gejala fisik. Gejala fisik itu dapat berupa kejang,
kehilangan suara, atau kelumpuhan sementara.
Faktor sosial dan budaya memainkan peran penting. Observasi
dalam psikologi lintas budaya menemukan konsep yang disebut culture‑bound
syndrome. Culture‑bound syndrome adalah kondisi psikologis yang hanya muncul
atau dipahami dalam konteks budaya tertentu. Di banyak masyarakat Asia
Tenggara, termasuk Indonesia, kerasukan menjadi cara otak mengekspresikan
tekanan yang tidak bisa diungkapkan secara langsung. Orang yang merasa
tertekan, tidak didengar, atau mengalami trauma mendalam dapat tanpa sadar
masuk ke kondisi trance sebagai pelarian psikologis.
Sugesti dan herd mentality harus disebut. Ketika satu orang di keramaian berteriak, orang
lain langsung ikut merasakan teriakan. Bukan karena syaitan berpindah ke tubuh
lain. Karena otak manusia mudah terpengaruh sugesti, terutama saat emosi dan
ketakutan menguasai. Fenomena tersebut disebut mass psychogenic illness.
Lalu Di Mana Kita Berdiri?
Saya tidak
mengajak siapa pun meragukan agama. Tidak sama sekali. Saya percaya, sebagai
orang beriman, kerasukan karena syaitan memang ada. Kadang ada kondisi
tertentu, lalu gangguan makhluk gaib muncul. Saya mengatasi gangguan makhluk
gaib lewat jalur spiritual, misalnya ruqyah atau doa.
Saya percaya
Allah menciptakan manusia dengan akal. Akal harus dipakai. Jadi, ketika
seseorang kerasukan, jangan berhenti pada satu penjelasan. Orang harus
menjalankan proses mengerti. Nah, apakah kerasukan merupakan gangguan
spiritual? Atau apakah kerasukan berhubungan dengan kondisi psikologis atau
medis? Mungkin kerasukan dan kondisi psikologis atau medis terjadi bersamaan.
Faktanya, selama
bertahun‑tahun banyak orang pergi ke orang pintar atau ustaz untuk diruqyah.
Orang itu butuh bantuan psikolog atau psikiater. Sebaliknya, orang lain cepat
menyebut orang itu gangguan kejiwaan. Masalah orang itu bersifat spiritual.
Kedua sikap itu berbahaya bila orang menutup pikiran.
Lalu, Apa yang
Harus Kita Lakukan?
Memahami dua
kemungkinan penting. Bertindak atas pemahaman dua kemungkinan lebih penting.
Pertanyaannya bukan lagi “kerasukan atau bukan?” tapi “langkah nyata apa yang
bisa kita ambil supaya orang yang mengalaminya benar‑benar terbantu?” Berikut
pendekatan. Saya yakin pendekatan‑pendekatan harus dipakai bersamaan, bukan
dipilih satu.
1. Jangan
Buru-buru Menyimpulkan , lihat Dulu dengan Tenang
Hal pertama yang
paling penting: tahan diri, jangan beri label. Jika seseorang tiba‑tiba
menangis histeris, menggeliat, atau bertingkah di luar kebiasaan, jangan
langsung teriak “kerasukan!” di depan banyak orang. Label dapat menjadi
sugesti. Sugesti dapat memperburuk kondisi orang tersebut.
Amati: apakah
kondisi ini muncul pertama kali atau sudah pernah terjadi? Apakah ada pemicu
emosional sebelumnya, misalnya konflik, tekanan, trauma? Apakah kondisi ini
hanya muncul di keramaian atau juga di tempat sepi? Pertanyaan sederhana dapat
memberi petunjuk awal yang lebih berguna daripada asumsi terburu-buru.
2. Jauhkan
Kerumunan , Karena Penonton Adalah
Bagian dari Masalah
Kerumunan ribut,
panik, dan memberi saran memperparah episode ‘kerasukan’, baik spiritual maupun
psikologis. Mass psychogenic illness yang saya sebut sebelumnya mudah menyebar
dalam kondisi itu. Langkah praktis: jauhkan kerumunan, bawa orang tersebut ke tempat
tenang, kurangi rangsangan berlebih, dan pastikan hanya satu atau dua orang
tenang yang mendampinginya.
3. Tempuh Dua
Jalur Sekaligus, Spiritual dan Medis
Bukan Musuh
Ini yang saya
tekankan. Pendekatan spiritual tidak meniadakan pendekatan medis. Pendekatan
spiritual dan pendekatan medis dapat berjalan bersamaan. Membaca Al‑Qur’an,
berdoa, atau melakukan ruqyah syar’iyyah tidak mengurangi hasil pemeriksaan
psikologis atau neurologis. Sebaliknya, orang yang tenang secara
spiritual merespon terapi lebih mudah.
Saya percaya, kalau setelah penanganan spiritual kondisi
tidak membaik atau malah kembali lagi secara rutin, kondisi tersebut menandakan
kita harus bawa orang tersebut ke psikolog atau psikiater. Bukan karena orang
tersebut tidak percaya agama. Karena kita bertanggung jawab atas kesehatan
orang yang kita sayangi. Islam tidak pernah melarang berobat. Islam bahkan
menyarankan berobat.
4. Bangun Literasi Psikologis di Lingkungan Sekitar
Sebagai pengamat, saya melihat bahwa masyarakat belum paham
kesehatan mental. Ketidaktahuan ini menjadi salah satu penyebab masalah. Jika
orang tidak tahu bahwa DID, Conversion Disorder, atau trauma psikologis memang
ada, orang cepat menyangka perilaku aneh datang dari makhluk gaib. Solusi bukan
menghilangkan kepercayaan spiritual, melainkan menambah pengetahuan baru sambil
menjaga kepercayaan lama.
Mulailah dengan
hal kecil. Bicarakan kesehatan mental di rumah tanpa rasa tabu. Ajak keluarga
mengerti bahwa gangguan psikologis bukan aib, melainkan kondisi medis. Jangan
gunakan kata “gila” yang menakutkan. Literasi rendah membuat banyak orang
terlambat mendapatkan pertolongan tepat.
5. Perlakukan
Orang yang Mengalaminya dengan Hormat dan Empati
Apa pun yang
terjadi pada seseorang, masalah spiritual, masalah mental, atau gabungan
keduanya, harus diingat satu hal: orang itu tetap manusia yang mudah terluka. Merekam
video orang itu melanggar martabat orang itu. Mengejek orang itu melanggar
martabat orang itu. Memakai cerita orang itu tanpa izin melanggar martabat
orang itu.
Empati menjadi dasar semua solusi. Tanpa empati, orang hanya
menonton drama, tidak menolong, dan situasi tidak berubah. Hal penting: orang
yang merasa dihargai, orang yang merasa aman, orang yang tidak dihakimi akan
pulih lebih cepat. Penanganan tidak
mengubah empati.
Penutup
Fenomena
kerasukan menunjukkan betapa rumitnya manusia. Manusia hidup di dunia fisik,
dunia pikiran, dan dunia rohani. Jika kita menyebut semua itu kerja setan tanpa
mencari penjelasan lain, kita menyederhanakan fenomena kerasukan. Jika kita
menyederhanakan fenomena kerasukan, penanganannya bisa salah. Menutup semua
kemungkinan hal gaib karena tidak terbukti secara ilmiah menandakan kesombongan
intelektual.
Berani duduk di
tengah menandakan kebijaksanaan. Berani percaya pada spiritual. Berani tidak
menutup mata pada fakta empiris. Berani bertanya lebih banyak sebelum
menyimpulkan. Berani mendengarkan lebih dalam sebelum menghakimi. Berani
menghormati orang yang sedang mengalaminya , apa pun penyebabnya, orang butuh bantuan,
bukan tontonan.
