Serambiupdate.com - Batik menjadi salah satu seni tekstil tradisional yang
berkembang di Asia Tenggara dan terus dikenalkan sebagai bagian dari kekayaan
budaya kawasan. Melalui workshop membatik di Visual Arts Centre Singapore,
mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh memperoleh
pengalaman langsung mempelajari teknik sekaligus nilai budaya yang terkandung
di balik tradisi tersebut.Workshop yang berlangsung pada 6 Juli 2026 itu merupakan
bagian dari rangkaian FASStrack Asia: The Summer School 2026 yang
diselenggarakan oleh National University of Singapore (NUS). Sebagai salah satu
agenda social event, kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan keberagaman
budaya Asia melalui pengalaman praktik langsung, sekaligus mempererat interaksi
antarpeserta yang berasal dari berbagai negara.
Dalam workshop tersebut, peserta terlebih dahulu mengikuti
demonstrasi teknik dasar membatik yang dipandu oleh instruktur profesional.
Para peserta diperkenalkan pada penggunaan canting untuk mengaplikasikan wax
pada kain sebagai pembatas agar warna tidak melewati pola yang telah dibuat.
Instruktur juga menjelaskan setiap tahapan pembuatan batik, mulai dari membuat
sketsa, melapisi motif menggunakan malam, hingga proses pewarnaan menggunakan
cat kain.
Setelah sesi
demonstrasi, para peserta diberi kesempatan untuk merancang motif sesuai
kreativitas masing-masing. Desain tersebut kemudian diaplikasikan pada sebuah
tote bag menggunakan canting dan pewarna kain. Setiap karya yang dihasilkan
memiliki karakter yang berbeda, mencerminkan kreativitas sekaligus pemahaman
peserta terhadap teknik membatik yang baru mereka pelajari.
Workshop ini
tidak hanya memberikan pengalaman artistik, tetapi juga menjadi ruang
pertukaran budaya. Peserta dari berbagai negara saling berbagi cerita mengenai
tradisi seni di negara asal mereka, sekaligus mengenal lebih dekat batik
sebagai salah satu seni tekstil tradisional yang berkembang di kawasan Asia
Tenggara.
Salah seorang peserta dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Cut
Sitti Kamila Muslim, mengaku workshop tersebut mengubah cara pandangnya
terhadap batik. Menurutnya, selama ini ia lebih mengenal batik hanya sebagai
bagian dari budaya Indonesia, tetapi melalui kegiatan tersebut ia memahami
bahwa tradisi batik juga berkembang di sejumlah negara Asia Tenggara.
"Saya jadi melihat batik dari perspektif yang berbeda.
Sebelumnya saya hanya memahami batik dalam konteks Indonesia, tetapi melalui
workshop ini saya mengetahui bahwa tradisi batik juga hidup dan berkembang di
negara-negara Asia Tenggara. Hal itu membuat saya semakin menghargai kekayaan
budaya di kawasan ini," ujarnya.
Ia menilai pengalaman tersebut menjadi salah satu momen
berharga selama mengikuti FASStrack Asia karena tidak hanya memperluas wawasan
mengenai budaya, tetapi juga membuka ruang diskusi dengan mahasiswa
internasional yang memiliki latar belakang budaya berbeda.
Workshop membatik merupakan salah satu rangkaian kegiatan
nonakademik dalam FASStrack Asia: The Summer School 2026. Selain mengikuti
perkuliahan dan diskusi akademik di National University of Singapore, para
peserta juga mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk memperkuat
pemahaman lintas budaya, membangun jejaring internasional, serta mendorong
kolaborasi antarmahasiswa dari berbagai negara.
Melalui kegiatan ini, FASStrack Asia menunjukkan bahwa
pertukaran mahasiswa tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pengalaman budaya
menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman lintas budaya, memperluas
perspektif global, serta mempererat hubungan antarmahasiswa melalui apresiasi
terhadap keberagaman tradisi yang dimiliki kawasan Asia.