Notification

×

Iklan

Iklan

Wadek I FISIP Uhamka Bagikan Tips Sukses Berkomunikasi di Hadapan Peserta Pelatihan Kemampuan Patroli Polri

15 Juni 2023 | Kamis, Juni 15, 2023 WIB | Last Updated 2023-06-15T01:30:20Z


Serambiupdate.com
- Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) Nurlina Rahman menjadi narasumber pada kegiatan Pelatihan Peningkatan Kemampuan Patroli Fungsi Samapta Polri Tahun Ajaran (TA) 2023 dengan tema Kita Wujudkan Petugas Patroli Presisi yang Handal dan Profesional Guna Menciptakan Situasi Kamtibmas yang Kondusif Menjelang Pemilu 2024 dan materi yang berjudul Kemampuan Komunikasi Efektif. Kegiatan pelatihan tersebut digelar di Hotel Menara Peninsula Jakarta, Rabu (14/6).

 

Dalam hal ini, Nurlina menyampaikan bahwa kunci sukses berkomunikasi adalah dengan banyak mendengarkan. Selain itu, mendengarkan tidak hanya bermakna mendengarkan dengan menggunakan telinga saja tetapi juga mendengarkan dengan menggunakan hati.

 

“Salah satu kunci sukses berkomunikasi adalah banyak mendengarkan. Dalam hal ini mendengarkan tidak hanya bermakna mendengarkan dengan telinga, tetapi juga mendengarkan dengan hati karena dalam ilmu komunikasi bermakna bahwa kegiatan komunikasi tidak hanya menerima kata-kata melalui telinga tetapi juga harus melibatkan jiwa, rohani atau hati. Dengan mendengarkan melalui hati maka akan terjadi proses dialogis sejati. Dengan mendengarkan maka kita mengakui teman bicara kita sebagai mitra dialog,” tutur Nurlina.

 

Disamping itu, Nurlina juga memaparkan bahwa kemampuan berkomunikasi perlu dikuasai oleh setiap personil Polri sebagai pengayom dan pelindung masyarakat agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Oleh karena itu, dengan adanya komunikasi yang terbangun antara personil polisi dengan masyarakat merupakan suatu bentuk komunikasi yang efektif.

 

“Setiap personil Polri perlu menguasai kemampuan berkomunikasi agar dapat menjalankan tugasnya sebagai pengayom dan pelindung masyarakat dengan baik maka komunikasi yang terbangun antara personil polisi dengan masyarakat akan menjadi sebuah bentuk komunikasi yang efektif. Komunikasi efektif itu sendiri mampu menghasilkan perubahan sikap (attitude change) pada orang yang terlibat dalam komunikasi. Selain itu, komunikasi efektif adalah saling bertukar informasi, ide, kepercayaan, perasaan, dan sikap antara, dua orang atau lebih, kelompok, organisasi yang hasilnya sesuai harapan,” ujar Nurlina.

 

Disisi lain, Nurlina mengucapkan bahwa komunikasi dikatakan efektif jika memenuhi 4 hal yakni pesan yang disampaikan dapat diterima, dimengerti, dan dipahami oleh penerima, isi pesan yang disampaikan sampai ke penerima dan ditindaklanjuti dengan perbuatan yang diminati oleh pengirim, tidak terdapat hambatan, dan yang terpenting adalah kemampuan mendengarkan dengan baik.

 

“Komunikasi dikatakan efektif jika memenuhi 4 hal yakni pesan dapat diterima, dimengerti dan dipahami, pesan sampai ke penerima dan ditindaklanjuti dengan perbuatan yang diminati oleh pengirim, tidak ada hambatan, dan kemampuan mendengarkan dengan baik. Adapun dasar teknis komunikasi efektif mencakup lima aspek utama (REACH model), meliputi respect yakni membangun sikap menghargai, emphathy dimana para pihak saling memahami apa yang dirasakan orang lain, audible yang berarti bahwa penyampaian pesan harus mampu dimengerti, dipahami. Lalu clarity yang berarti bahwa pesan yang akan disampaikan harus jelas tanpa ambigu dan terakhir adalah humble yang berarti bahwa komunikasi harus dilakukan dengan penuh kerendahan hati,” terang Nurlina.

 

Nurlina juga menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi kegiatan komunikasi sehingga perlu dipahami oleh personil Polri dalam menjalankan tugas kesehariannya. Faktor-faktor tersebut antara lain perkembangan, persepsi, nilai, latar belakang sosial budaya, emosi, jenis kelamin, pengetahuan, peran dan hubungan, lingkungan, serta jarak.

 

“Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kegiatan komunikasi, dan hal ini harus dipahami oleh personil Polri dalam menjalankan tugas kesehariannya. Faktor-faktor tersebut antara lain perkembangan, persepsi, nilai, latar belakang sosial budaya, emosi, jenis kelamin, pengetahuan, peran dan hubungan, lingkungan serta jarak. Setiap anggota Polri merupakan pelaku komunikasi (komunikator),” ucap Nurlina.

 

Oleh karena itu, seorang anggota Polri perlu membangun komunikasi yang efektif dengan melakukan beberapa cara praktis yang dapat dilakukan oleh personil Polri agar dapat menjadi seorang komunikator yang baik.

 

“Beberapa cara praktis yang dapat dilakukan diantaranya menunjukkan antusias sebagai bentuk penghargaan saat berdialog, memberikan minat pada apa yang disampaikan lawan bicara, merespon lebih positif melalui bahasa tubuh, menjadi pendengar yang baik, menjaga kontak mata dengan lawan bicara, memberikan kesan berada pada kelompok yang sama, jangan lupa tersenyum, dan berikan saran yang bermanfaat. Kita juga harus mampu memberikan motivasi dan semangat kepada lawan bicara,” tegas Nurlina.

 

Bagi Nurlina, seorang komunikator yang efektif dapat berfungsi membangun kepercayaan, mencegah dan mengatasi masalah, mendapatkan pengarahan, dan meningkatkan keharmonisan maupun kebersamaan. Suasana tersebut sangat dibutuhkan dalam meningkatkan produktivitas kelompok yang dapat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari sehingga komunikasi memiliki peran penting dalam membangun citra polisi.

 

“Beberapa upaya dapat dilakukan setiap anggota polri dalam membangun citra polisi diantaranya dengan rutin memberikan informasi tentang peraturan perundang-undangan kepada masyarakat secara langsung, (sosialisai, kampanye/penyuluhan), memberikan pelayanan prima, patroli dialogis, bertindak tegas melakukan penyidikan terhadap pelaku unjuk rasa anarkis, memberikan  informasi kepada masyarakat melalui media cetak (surat kabar, brosur, spanduk), media elektronik (radio dan televisi) dan media online (internet), menggunakan gaya komunikasi (cara berkomunikasi dengan baik dan benar) memberi penilaian yang positif sehingga partisipasi masyarakat, komunikasi verbal dan non verbal, lobby negosiasi, komunitas, serta pemuda/remaja,” tambah Nurlina.

 

Pada kesempatan yang sama, Kombes Pol Mujiyono selaku Ketua Pelaksana kegiatan pelatihan tersebut menyampaikan apresiasi dan terimakasihnya kepada seluruh narasumber termasuk Nurlina Rahman yang sudah berbagi ilmu, pengetahuan, serta pengalaman kepada 68 personil Polri peserta pelatihan karena Nurlina dinilai memiliki kompetensi komunikasi yang memang dibutuhkan oleh anggota Polri.

 

“Bu Nurlina bukan sekali ini kami minta bantuan untuk memberikan pembekalan kepada personil Polri terkait kemampuan berkomunikasi. Ini merupakan yang ketiga kalinya. Ia memiliki kompetensi yang mumpuni dibidang komunikasi serta tanggapan dari peserta sangat baik terhadapnya karena penyampaian materi yang tidak monoton serta membangun suasana pelatihan yang dinamis,” jelas Kombes Pol Mujiyono.

 

Diakhir pemaparan, Kombes Pol Mujiyono menyampaikan harapannya kepada para peserta pelatihan untuk dapat menularkan ilmunya sampai ke Polres dan Polda sehingga patroli presisi yang diinisiasi dan dikembangkan Kakorshabara Baharkam Polri Irjen Pol Drs Priyo Widyanto secara operasional dapat meminimalisir peluang terjadinya kejahatan.

 

“Kepada seluruh anggota polri khususnya Sabhara, memang harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik karena tugas Sabhara salah satunya adalah patroli dialogis, dimana ini sedang dikembangkan melalui patroli presisi sehingga diharapkan pula para peserta pelatihan dapat menularkan ilmunya sampai ke Polres dan Polda sehingga patroli presisi yang diinisiasi dan dikembangkan Kakorshabara Baharkam Polri Irjen Pol Drs Priyo Widyanto benar-benar mampu secara operasional dan mampu meminimalisir peluang terjadinya kejahatan,” tutup Kombes Pol Mujiyono.

=