Notification

×

Iklan

Iklan

Stress dan Depresi

Minggu, 14 November 2021 | Minggu, November 14, 2021 WIB | Last Updated 2021-11-14T13:13:15Z

Silvi Miranti

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat FIKES UHAMKA


Stress dan depresi adalah dua hal yang berbeda, namun kebanyakan orang menganggap stress dan depresi adalah hal yang sama. Stress adalah suatu tekanan atau sesuatu yang terasa menekan dalam diri individu. Sesuatu tersebut dapat disebabkan oleh ketidak seimbangan antara harapan dan kenyataan yang diinginkan oleh individu, baik keinginan yang bersifat jasmani maupun rohani. Sedangkan Depresi merupakan gangguan emosional atau suasana hati yang buruk yang ditandai dengan kesedihan yang berkepanjangan, putus harapan, perasaan bersalah dan tidak berarti. Sehingga seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) tersebut dapat mempengaruhi motivasi untuk beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari maupun pada hubungan interpersonal. Banyak orang beranggapan bahwa stress dan depresi adalah hal yang biasa dan mengganggap hal tersebut sepele dan akan hilang dengan sendirinya padahal pemikiran tersebut salah, bahkan sangat salah. Saat ini mungkin, banyak orang yang mengalami stress, kecemasan, galau yang berlebihan bahkan depresi. Dan pastinya setiap orang mengalami berbagai masalah dalam hidupnya, banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi depresi atau stress. Stress bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak usia sekolah. Biasanya orang yang sedang stress rentan mengalami gejala berikut ini: 

  • Sulit tidur, gangguan daya ingat terganggu, 

  • Gangguan berkonsentrasi, 

  • Mudah marah dan tersinggung, 

  • Sering gugup dan lain-lain 

Sedangkan tanda-tanda depresi jauh lebih rumit daripada gejala stress. Kemunculannya pun bisa bertahap sehingga sulit untuk benar-benar menyadari kapan depresi pertama kali menyerang, apa saja si tanda-tanda depresi tanda-tanda depresi yaitu 

  • Menarik diri dari lingkungan sosial dan keluarga, 

  • Merasa sedih seperti tidak ada harapan, 

  • Hilang semangat, motivasi energi dan stamina, 

  • Merasa bersalah, gagal dan lain-lain. 

Untuk mengurai stress yang muncul yang pertama dan paling utama adalah dengan cara mengetahui penyebabanya agar dengan mudah menentukan cara mengurangi stress yang muncul dalam diri kita dan dengan cara melalui pola makan yang sehat dan bergizi, melakukan aktivitas yang membuat kita senang, selalu berfikiran positif  Sedangkan untuk depresi dapat kita cegah dengan cara Bersikap realistis terhadap apa yang kita harapkan dan apa yang bisa kita lakukan, Tidak menyalahkan diri sendiri atau orang lain saat kita melakukan suatu kesalahan atau mengalami kegagalan. Tidak membanding-bandingkan diri dengan orang lain ataupun kehidupan orang lain, Tidak terlalu menyesali suatu kejadian, bersikap tenang dan tidak mudah marah, Tidak menyendiri, menjauhi diri dari pergaulan dan lebih bersosialisasi, melakukan aktivitas dengan lingkungan sekitar, Mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Depresi mungkin lebih parah daripada stress dan mungkin gejala depresi sulit untuk terlihat tetapi hal tersebut harus lah kita cegah dan selalu lebih peduli kepada diri sendiri agar terhindar dari depresi, Stress mungkin tidak pernah dapat dihindari oleh setiap orang selama dalam kehidupannya sehingga setiap orang harus mampu mengenali penyebab stress dan cara-cara menguranginya. Memang benar setiap orang mempunyai masalahnya masing-masing tetapi kita harus menyikapi masalah tersebut dengan kepala dingin dan tidak terlalu memikiran suatu masalah secara berlebihan agar tidak timbul stress yang berkepanjangan atau depresi. Jika kita mempunyai masalah sebaiknya jangan dipendam, sebaiknya dibicarakan dengan orang yang sudah kita percaya dan sebaiknya kita lebih mengenali diri sendiri agar mampu mengontrol emosi, sehingga kita atau setiap individu mampu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi agar terhindar dari perilaku yang tidak baik atau sampai memikirkan untuk mengakhiri hidup. Untuk memastikan suatu depresi perlu dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh mulai dari wawancara medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan status mental, serta pemeriksaan lainnya. Oleh karena itu ada baiknya konsultasikan keluhan pada dokter spesialis /psikolog agar pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut dapat diberikan dan juga dapat mencegah mendiagnosis diri sendiri yang mungkin saja dapat berdampak negatif karena salah persepsi.




×
Berita Terbaru Update