Notification

×

Iklan

Iklan

STOP Catcalling!

Senin, 02 Agustus 2021 | Senin, Agustus 02, 2021 WIB | Last Updated 2021-08-01T22:52:10Z



Karya Mila Septiana

Mahasiswa D3 Perpajakan FEB Uhamka

Apa itu catcalling?banyak masyarakat yang belum mengenal istilah nama "catcalling".

Sebagai wanita, kamu pernah mendapatkan catcalling nggak ? Ya, seperti siulan, atau komentar laki-laki saat kamu sedang berada di jalan, sehingga membuat kamu tidak nyaman. Banyak yang menganggap jika itu hal biasa, hanya sekadar usil saat laki-laki menggoda wanita. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa hal itu ternyata memiliki arti kecenderungan seksual. Catcalling adalah bentuk salah satu pelecehan seksual di ruang publik, bentuk dari definisi ini yaitu tindakan yang tidak diinginkan dan dipaksakan pada seseorang di ruang publik tanpa persetujuan mereka dan ditujukan kepada mereka berdasarkan jenis kelamin, gender, ekspresi seksual, atau orientasi seksual mereka yang sebenarnya atau dirasakan.

Catcalling juga dapat dialami oleh siapa saja tanpa pandang jenis kelamin. Akan tetapi rata-rata korban dari sikap catcalling ini yaitu perempuan, walaupun laki-laki juga bisa jadi korban catcalling ini.

 

Catcalling berkedok pujian, Catcaller ini adalah satu-satunya yang mungkin akan kamu berikan senyuman canggung. Catcaller  tipe ini akan mengatakan sesuatu seperti "Kamu cantik" saat berjalan di jalan. Mungkin mereka pikir dengan berkata seperti itu akan mencerahkan hari kamu, tapi itu ternyata malah membuat kamu merasa tidak nyaman, kan?

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Stop Street Harassment, hampir 99 persen responden wanita pernah merasakan pelecehan di jalanan, termasuk catcalling. Pelecehan seksual ini bukan hanya ketika wanita dihujani kata-kata bernada seksis seperti “kamu cantik” atau “kamu seksi”, namun juga beberapa bentuk lainnya, seperti:

Mengatakan kata-kata seksis yang eksplisit.

Lirikan, yakni ketika laki-laki melirik wanita dengan tatapan penuh nafsu.

Bersiul, yakni ketika laki-laki mengeluarkan siulan dari mulutnya dan biasanya ditujukan untuk melecehkan bentuk tubuh wanita yang dianggapnya seksi.

Memperlihatkan gestur vulgar, misalnya menggigit bibir bawah tanda laki-laki tersebut sedang birahi.

 

Menurut survei pelecehan seksual yang melibatkan 470 responden perempuan di Jakarta, sebanyak 18% korban pelecehan itu memakai celana panjang dan rok panjang, 17% memakai jilbab, 16% memakai baju panjang, dan 14% memakai seragam sekolah. Pelecehan seksual termasuk catcalling juga lebih banyak terjadi pada pagi dan siang hari, baik di jalanan maupun di transportasi umum. Jadi, nggak benar ya mitos usang yang bilang bahwa pelecehan terjadi karena perempuan memakai baju terbuka, atau terjadi karena perempuan 'keluyuran' di malam hari.

Cara melawan atau menghindari catcalling

Menghindari kumpulan atau gerombolan laki-laki di pinggir jalan.

Berhenti dan menatap mata mereka. Sekali-kali beranikan diri untuk tidak menunduk dan melihat ke arah mereka. 

Hindari menggunakan perhiasan menyolok.

 

 

Dampak dari catcalling

Catcalling picu depresi

Sebuah studi di Norwegia yang dilakukan pada hampir 3.000 siswa-siswi sekolah menengah atas, mengungkapkan bahwa pelecehan seksual nonfisik seperti catcalling dapat meningkatkan gangguan pada mental. Mulai dari depresi, kecemasan, rendah diri dan citra negatif terhadap tubuh.

Muncul perasaan ‘terancam’ ketika wanita berada di tempat umum yang bahkan banyak orang di sekitarnya.

Penurunan harga diri yang terlihat dari cara berpakaian, ekspresi wajah, dan emosi yang diperlihatkan di depan umum

Terus-menerus mendapat catcalling juga dapat mengakibatkan wanita menerima bahwa dirinya hanyalah objek, bukan wanita yang berhak bersuara atas keinginannya sendiri.


×
Berita Terbaru Update