Notification

×

Iklan

Iklan

Kemenag–Al-Azhar Jajaki Gelar Ganda, Kuliah Daring, dan Riset Bersama

14 Oktober 2026 | Rabu, Oktober 14, 2026 WIB | Last Updated 2026-10-14T08:38:01Z

 


Serambiupdate.com
- Kementerian Agama (Kemenag) bersama Universitas Al-Azhar Asy-Syarif memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan melalui sejumlah program, mulai dari peluang gelar ganda, pembelajaran jarak jauh, riset kolaboratif, hingga pertukaran tenaga pengajar. Kesepakatan yang ditandatangani di Jakarta tersebut bertujuan mempererat hubungan akademik antara Indonesia dan Mesir, sebagaimana dilaporkan Medcom.

 

Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama Wakil Al-Azhar Asy-Syarif, Asy-Syekh Ayman Abdul Ghani, menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) melalui mekanisme hibrida di Kantor Kementerian Agama. Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan bilateral antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi.

 

Salah satu inisiatif yang akan dikembangkan melalui kerja sama tersebut adalah program gelar ganda atau pendidikan terpadu yang melibatkan perguruan tinggi Indonesia dan Universitas Al-Azhar di Mesir. Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa program ini memungkinkan mahasiswa menjalani masa pendidikan di kedua negara dan memperoleh dua ijazah setelah menyelesaikan studi.

 

"Dimungkinkan untuk melakukan program terpadu atau gelar ganda. Mahasiswa dapat menempuh pendidikan dua tahun di sini (Indonesia) dan dua tahun di Al-Azhar Mesir, kemudian nanti mendapatkan dua ijazah," ujar Nasaruddin Umar, Menteri Agama.

 

Penguatan kemitraan ini menjadi penting mengingat banyak mahasiswa Indonesia yang melanjutkan pendidikan di Mesir. Selain menghadirkan program gelar ganda, kesepakatan tersebut juga mencakup pengembangan sistem pembelajaran daring guna memperluas jangkauan pendidikan sekaligus meningkatkan efisiensi pelaksanaan perkuliahan.

 

Kemenag turut merencanakan kehadiran sekitar 1.000 ulama asal Mesir yang telah memiliki kemampuan berbahasa Indonesia. Para ulama tersebut diharapkan dapat mendukung kegiatan pengajaran di sejumlah perguruan tinggi dan pondok pesantren di Indonesia sebagai upaya meningkatkan kapasitas pendidikan Islam.

 

Di samping mendatangkan pengajar dari Mesir, kerja sama ini juga memberikan peluang bagi imam, ustaz, serta dosen bahasa Arab dan Dirasah Islamiyah dari Indonesia untuk mengikuti program pendidikan spesialisasi di Mesir. Program takhasus tersebut diarahkan untuk memperdalam keahlian sekaligus meningkatkan kompetensi tenaga pendidik dalam negeri.

 

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amin Suyitno, mengungkapkan bahwa proses perumusan MoU telah berjalan cukup panjang dan melewati empat periode kepemimpinan Menteri Agama. Kesepakatan ini diharapkan menjadi pijakan bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dalam mengembangkan penyelenggaraan pendidikan yang lebih efektif dan efisien.

Amin juga menekankan potensi penerapan perkuliahan daring sebagai salah satu bentuk implementasi kerja sama Kemenag dengan Universitas Al-Azhar. Melalui skema tersebut, kebutuhan mahasiswa Indonesia untuk mengikuti perkuliahan secara langsung di Mesir diharapkan dapat berkurang, sehingga kepadatan akibat tingginya jumlah mahasiswa beserta dampaknya dapat diminimalkan.

 

"Salah satunya adalah bagaimana kita bisa melakukan kuliah daring, sehingga nanti mengurangi mahasiswa-mahasiswa kita yang datang ke Mesir, sehingga suasana yang sangat padat beserta dampaknya bisa dikurangi," ujar Amin Suyitno, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama.


=