Serambiupdate.com - Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berkolaborasi dengan penerbit Langgam Pustaka menyelenggarakan kegiatan Lokakarya Puisi dan Bedah Buku Sonata Senja di Auditorium Gedung FPBS UPI, Bandung, Senin (13/7/2026).
Kegiatan ini menghadirkan dua pakar sastra
sebagai narasumber utama, yakni Prof. Sumiyadi dari UPI dan Prof. Suminto dari
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Acara tersebut juga dimeriahkan dengan
kehadiran para penggiat sastra, di antaranya Dode Riswandi, Muhammad Mazeinda
Albiruni, Cecep Syamsul Hari, serta Hari Heriyadi, dan dihadiri oleh segenap
civitas akademika UPI.
Sonata Senja
merupakan antologi puisi yang menghimpun karya-karya pilihan Prof. Sumiyadi
selama rentang waktu 1990 hingga 2026. Buku ini tidak hanya menjadi medium
refleksi perjalanan kepenulisan sang penyair, tetapi juga diniatkan sebagai
motivasi bagi mahasiswa dan masyarakat umum untuk terus berkarya.
Dalam paparannya, Prof. Sumiyadi menegaskan
bahwa proses kreatif menulis puisi tidak harus dimulai dengan label sebagai
seorang sastrawan. Menurutnya, pengalaman hidup sehari-hari adalah bahan bakar
utama dalam menulis.
"Buku antologi ini adalah rekaman proses
kreatif saya sejak masa mahasiswa hingga saat ini. Melalui karya ini, saya
ingin memotivasi mahasiswa bahwa menulis puisi bukanlah hal sulit, karena
setiap proses kehidupan dapat kita tuangkan dalam bentuk karya sastra,"
ujar Prof. Sumiyadi.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya fungsi
karya sastra dalam dunia akademik.
"Sebuah karya sastra tidak hanya untuk
dibuat dan dinikmati, tetapi juga dapat diteliti. Melalui puisi, kita bisa
melakukan eksegesis untuk menggali makna mendalam di balik teks tersebut,"
tambahnya.
Sementara itu, Prof. Suminto dalam ulasannya
menyoroti bahwa Sonata Senja merupakan rekam jejak ekspresi individual
sekaligus representasi kehidupan sosial penyairnya. Ia mengibaratkan Sonata
Senja sebagai sebuah "dialog penyair dengan sekat-sekat waktu yang
membentuk kehidupannya."
Salah satu karya yang dibedah oleh Prof.
Suminto adalah puisi berjudul Hijrah Burung yang ditulis Prof. Sumiyadi
pada tahun 1990 pada buku tersebut.
Menurut Suminto, sebuah puisi harus berpijak
pada tiga elemen penting, yakni lokus (tempat/konteks), tipus (tipe/bentuk),
dan diskursus (wacana).
Ia menjelaskan bahwa wacana yang dibangun
dalam puisi tersebut berakar pada pengalaman kemanusiaan penyair, baik secara
personal, sosial, empiris, maupun imajinatif.
Menutup sesinya, Prof. Suminto memberikan
dorongan kepada peserta lokakarya untuk tidak takut memulai menulis.
"Selama kita memiliki bahasa, kita akan
selalu mampu menulis karya sastra, karena bahasa adalah instrumen utama dalam
setiap proses penciptaan sastra," pungkasnya.
