Notification

×

Iklan

Iklan

Peneliti UHAMKA: Indonesia Terjebak dalam Invisibility di Panggung Global

06 April 2026 | Senin, April 06, 2026 WIB | Last Updated 2026-04-06T08:34:03Z


Serambiupdate.com
- Peneliti Pusat Studi Politik dan Sosial Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA), Dr. Emaridial Ulza, menegaskan bahwa sikap nonaktif Indonesia dalam konflik AS-Israel terhadap Iran dapat menimbulkan implikasi tertentu.

 

Menurutnya, ancaman bagi Indonesia tidak semata-mata datang dari sektor ekonomi, seperti kenaikan harga minyak atau tekanan terhadap APBN, melainkan juga dari hilangnya posisi strategis Indonesia dalam perhatian global.

 

Sebagai Founding Director GTI, ia mengeluarkan laporan strategis terbaru yang menganalisis dampak konflik tersebut bagi Indonesia. Laporan setebal lebih dari 35 halaman ini disusun dari ratusan sumber internasional dan menunjukkan bahwa Indonesia saat ini menghadapi kondisi yang disebut sebagai strategic invisibility trap.

 

Emaridial menjelaskan bahwa situasi ini bukan menunjukkan citra buruk Indonesia di mata dunia, tetapi justru menandakan ketidakhadiran Indonesia dalam persepsi global.

 

“Di tengah derasnya arus informasi global, negara yang tidak tampil dalam narasi internasional berpotensi tidak diperhitungkan, baik dalam konteks investasi, diplomasi, maupun kebijakan strategis,” ungkap Emaridial.

 

Ia mengungkapkan bahwa dari perspektif international marketing dan neurosains keputusan kolektif, respons pelaku pasar global dan publik internasional tidak hanya didasarkan pada data, tetapi juga pada narasi yang kerap muncul dan tertanam dalam ingatan mereka.

 

Dalam penjelasannya, Emaridial menyebut bahwa negara yang tidak aktif mengembangkan narasinya sendiri berpotensi kehilangan perhatian global, meskipun memiliki kekuatan ekonomi yang besar.

 

“Fenomena ini semakin terlihat saat dibandingkan dengan Iran. Walaupun berada di tengah konflik besar, Iran tetap tampil di berbagai forum global dan menjadi bagian dari percakapan dunia,” ungkapnya.

 

“Indonesia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan ekonomi yang stabil belum menjadi aktor penting dalam narasi global,” tambahnya.

 

Emaridial menilai kondisi ini berdampak langsung pada ekonomi, bukan hanya citra. Gangguan pada reputasi, narasi, dan persepsi dapat menunda investasi asing, menaikkan biaya pinjaman, dan memicu keluarnya modal.

 

Di sisi lain, laporan tersebut turut menyoroti tekanan ekonomi yang dihadapi Indonesia melalui konsep Keynesian Triple Squeeze, yakni kondisi ketika tiga pilar utama ekonomi—ketenagakerjaan, suku bunga, dan likuiditas—mengalami tekanan secara simultan. Kondisi ini dinilai berbeda dari krisis sebelumnya karena tidak terdapat sektor yang berfungsi sebagai penyangga.

 

Selain tekanan ekonomi, laporan ini juga mengidentifikasi potensi implikasi geopolitik yang lebih luas. Krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah dinilai mendorong negara-negara ASEAN untuk bernegosiasi dengan China dari posisi yang lebih lemah di Laut China Selatan. Pergeseran ini berpotensi memengaruhi keseimbangan keamanan kawasan, termasuk wilayah strategis Indonesia seperti Natuna.

 

Di balik berbagai tekanan yang dihadapi, Indonesia justru memiliki sejumlah keunggulan yang mendapat pengakuan global. Beberapa di antaranya adalah keberhasilan dalam pengumpulan pajak ekonomi digital yang menempatkan Indonesia di peringkat tiga besar dunia, serta program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu investasi sumber daya manusia terbesar di kawasan. Meski demikian, Emaridial menilai keunggulan tersebut belum tersampaikan secara optimal di tingkat global.

 

Ia menuturkan bahwa di era saat ini, narasi telah melampaui fungsi sebagai pelengkap dan justru menjadi penentu arah ekonomi sebuah negara. Ketika negara gagal mendefinisikan dirinya sendiri, maka posisinya tidak akan dianggap penting oleh dunia.

 

Laporan tersebut disusun menggunakan kerangka Global Trust Intelligence (GTI), sebuah pendekatan analitik yang mengintegrasikan international marketing, neurosains, ketahanan non-militer, serta ekonomi Keynesian untuk melihat keterkaitan antar-isu yang sering luput dari analisis konvensional.

 

Di tengah persaingan narasi global yang semakin ketat, Indonesia dihadapkan pada pilihan untuk tetap menjadi penonton atau bertransformasi menjadi aktor yang diperhitungkan dalam percakapan dunia.

 

“Dalam konteks sistem global saat ini, ketidakterlihatan suatu entitas berpotensi membuatnya tidak dianggap eksis,” kata Emaridial.

=