Notification

×

Iklan

Iklan

Pentingnya Skill Pewara dan Protokoler dalam Kehidupan, Wadek I FISIP Uhamka Latih Siswa SMKN 2 Jakarta

28 Juli 2023 | Jumat, Juli 28, 2023 WIB | Last Updated 2023-07-28T07:15:31Z

 


Serambiupdate.com
Nurlina Rahman Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (Uhamka) menjadi narasumber dalam kegiatan Pembekalan Kompetensi Siswa Kelas XI melalui Program Guru Tamu OTKP dengan tema Berani Tampil Percaya Diri di Depan Publik Dalam Tugas dan Fungsi Humas Keprotokolan (Event Management) dan MC/Pewara selama dua hari berturut-turut, 26-27 Juli 2023.


Kegiatan ini dihadiri oleh Sukarti Wakil Kepala SMKN 2 bidang Sarana Prasarana, Yeti Suhayati Ketua Program Manajemen Perkantoran SMKN 2 Jakarta, 36 siswa program Manajemen Perkantoran SMKN 2 Jakarta.


Dalam pelatihan ini, Nurlina membawakan tiga materi yakni etika kepribadian, teknik mengolah vokal serta tugas & fungsi pewara dalam teknik dan penerapan. Materi-materi tersebut tidak hanya disampaikan dalam bentuk teori tetapi juga dalam bentuk praktik dengan proporsi 30 persen teori dan 70 persen praktik.


Nurlina menyebutkan dalam materinya, siswa perlu memahami dan menguasai kemampuan sebagai pewara dan humas keprotokolan, bukan hanya secara teori tapi juga implementasinya dalam kehidupan.


“Saya berpikir secara teori pasti siswa sudah menguasai materi-materi yang saya sampaikan. Tetapi bagaimana implementasi atau praktiknya di lapangan, itu yang perlu ditingkatkan kompetensinya,” kata Nurlina.


Karena itu, sebagai akademisi sekaligus praktisi, selama dua hari pelatihan Nurlina memperbanyak praktik langsung baik dalam hal menjadi master of ceremony atau pewara, maupun mengatur (manajemen) event.


“Alhamdulillah siswa sangat antusias mengikuti pelatihan ini,” tambah Nurlina.


Para peserta dibagi dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok diminta untuk memilih event yang akan dikelola. Ada yang memilih event kenegaraan, ada yang memilih event hiburan, ada juga yang memilih event formal lainnya.


“Intinya siswa paham bagaimana mereka mengatur event,” tegas Nurlina.


Kepada para peserta pelatihan, Nurlina menekannya beberapa hal yang harus dipahami dan dikuasai seseorang yang ingin menjadi MC atau pembawa acara profesional. Mulai dari memahami tugas dan fungsi seorang pembawa acara hingga menguasai teknik saat tampil di depan publik.


“Tugas seorang PA yang pada intinya meliputi tiga hal yakni membuka acara, memandu acara dan menutup acara memang sekilas sederhana saja. Tetapi masing-masing tugas tersebut ada ilmunya,” pungkasnya.


Dalam menjalankan tugas tersebut, pembawa acara tak sekadar mengumumkan acara yang akan berjalan, tetapi juga harus harus mampu menarik perhatian, mengatasi hambatan, memberikan informasi serta menstimulir, menggugah dan menggerakkan khalayak.


Untuk bisa menjalankan fungsinya dengan baik, seorang pembaca acara juga penting mengetahui jenis acara yang dibawakannya. Dalam ilmu public speaking, pembawa acara/pewara atau biasa dikenal master/mistress of ceremony (MC) dibedakan dari cara, isi dan bentuk penyampaiannya. Hal tersebut didasari dari Jenis acara yaitu state function (upacara kenegaraan), formal function (acara resmi), semi resmi/semi formal dan acara entertainment (hiburan) dan atau family function.


“Hal-hal yang bersifat teknis juga harus dikuasai seorang pembawa acara seperti suara yang baik, tenang dan tahu maksud maupun tujuan acara. Ini penting agar seorang pembaca acara mencapai apa yang jadi sasarannya,” tambah Nurlina.


Ia mencontohkan ketika ada seorang pewara untuk acara formal yang menyebutkan satu persatu tamu atau hadirin. Tindakan ini tidak dibenarkan dalam ilmu public speaking.


“Kita cukup menyebutkan tamu-tamu VVIP, VIP, tidak harus semuanya,” katanya.


Untuk acara formal seorang pembawa acara juga tidak dibenarkan memberikan ulasan atau komentar terhadap hal-hal yang dikatakan pembicara lain. Jadi cukup menyebutkan acara dan urutannya saja.


Dalam kesempatan tersebut, Nurina juga berbagi cara untuk mengolah vocal bagi seorang pembawa acara. Meliputi aspek ekspresif penyampaian yang terdiri atas suara, penggunaan bahasa, gerak gerik, bahasa tubuh dan kontak mata.


Mengatur suara perlu memperhatikan tiga hal penting yakni artikulasi, volume, jeda, intonasi, diksi, dan kontak mata. Sedang untuk gerakan, usahakan bergerak secukupnya dan dengan tujuan gerakan juga harus natural dan mendukung kata-kata yang diucapkan pewara dan tentu isi pesan dalam memandu acara.


Bahasa tubuh, jelas Nurlina, penting bagi seorang pembawa acara untuk berdiri tegak dan tidak kaku, santai atau casual tapi tidak terkesan malas, biarkan tubuh bereaksi terhadap yang dirasakan, serta buatlah kontak mata yang baik.


Sebelum tampil, Nurlina berpesan agar seorang pembawa acara sebanyak mungkin berlatih baik di depan teman atau keluarga.


“Ingatlah dua menit pertama penampilan anda, sehingga anda bisa melewati waktu dengan mudah apabila suasana menjadi lebih aktif,” tutup Nurlina.


Sebelumnya, Wakil Kepala SMKN 2 Jakarta, Dra Sukarti mengatakan bahwa pelatihan bagi siswa ini merupakan pertama kalinya mengundang praktisi.


“Mengundang praktisi ke ruang kelas adalah salah satu cara yang kami lakukan untuk meningkatkan kompetensi siswa terkait public speaking, pewara dan manajemen event. Tentu akan berbeda jika siswa belajar langsung ke praktisi atau ahlinya,” ujar Sukarti.


Ia berharap dengan mengundang praktisi ke ruang kelas, siswa mendapatkan ilmu yang lebih relevan dengan dunia kerja. Tidak hanya itu, pelatihan juga membantu siswa mencapai kompetensi dan pembelajaran di dalam kelas.


Pelatihan public speaking tersebut diharapkan dapat meningkatkan kompetensi siswa jurusan Manajemen Perkantoran SMKN 2 Jakarta dalam hal kemampuan public speaking atau pewara.

=