Notification

×

Iklan

Iklan

Stigma Negatif yang Melekat pada Musik Metal

16 April 2023 | Minggu, April 16, 2023 WIB | Last Updated 2023-04-16T02:09:00Z


 


Oleh:  Ibnu Atta’illah 

Mahasiswa FEB Uhamka 


 Musik metal merupakan salah satu genre musik yang diadopsi dari budaya Barat, musik metal  dan nilai-nilainya telah diterima oleh generasi muda di Indonesia. Namun sayangnya, musik metal  diasosiasikan dengan berbagai bentuk stigma dan stereotip negatif sebagian besar orang, seperti musik  yang tidak wajar dan menjadi penyebab dari semua perilaku negatif di kalangan anak muda, tidak  terkecuali Indonesia. 


Kita bisa melihat bahwa anggapan masyarakat tentang musik metal dan kekerasan tidak  sejalan. Orang orang yang menyukai musik metal adalah orang biasa yang menyukai musik kompleks  dan menggunakan musik keras sebagai sarana untuk menenangkan emosi, daripada kekerasan  langsung di masyarakat. Musik yang mereka dengar berbicara tentang kekerasan dan agresi, tetapi itu  tidak membenarkan atau mendorong mereka untuk menjadi seorang kriminal. Hal ini bertentangan  dengan anggapan umum bahwa mendengarkan musik metal dapat mempengaruhi seorang untuk  menjadi penjahat, pemuja setan, atau pembunuh. 


Asosiasi terhadap kemarahan, agresi dan tindak kekerasan menjadi asal-muasal stigma  penggemar musik metal di masyarakat. Tidak tanggung-tanggung, asosiasi dan stigma ini menorehkan  sejarah kepanikan moral yang terjadi pada industri musik di Amerika Serikat pada tahun 1985.  Kelompok konservatif itu kemudian mendirikan Parents Music Resource Center (PMRC) pada April  1985 yang dengan getol melakukan sensor pada musik-musik yang mengandung unsur kekerasan  seperti rock, metal dan rap. Moral panik ini berasumsi bahwa anak muda yang mendengarkan musik  keras dan lirik lagu bertema kekerasan akan cenderung melakukan kekerasan. 


Musik metal sangat dipengaruhi oleh aksi panggung para band-band besar dan lirik-lirik yang  mereka sajikan. Asumsi kebanyakan orang tentang metalhead sebagai pemuja setan, kriminal dan  penuh kekerasan tidak bisa dilepaskan oleh pengaruh Ozzy Osbourne sebagai salah satu ikon musik  metal dengan bandnya Black Sabbath. Penampilan panggung Ozzy Osbourne pada 20 Januari 1982  ketika ia menggigit kepala kelelawar sampai putus menjadi justifikasi kekerasan dan sadisme dalam  budaya metal. 


Lirik yang kadang bertema sadisme, saling membentur-benturkan badan dan musik yang  kompleks selalu membuat metal sebagai subkultur yang disalahpahami. Ada dua hal yang alamiah  dalam keberadaan manusia yakni emosi dan kecenderungan asosiasi. Dentuman drum yang cepat,  nada gitar yang tinggi dan cepat serta suara manusia sebagai instrumen, alih-alih sebagai nyanyian  membuat musik metal diasosiasikan dengan emosi marah. Sementara emosi marah selalu dilihat  sebagai emosi negatif yang memancing dan menjustifikasi seseorang melakukan agresi. Padahal  emosi dan tindakan adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa mengalami suatu emosi, sedih  misalnya tetapi tidak menangis atau seseorang bisa menjadi marah tanpa melakukan kekerasan.


=