Notification

×

Iklan

Iklan

Efek Pembelajaran Jarak Jauh selama Pandemi

20 Juli 2022 | Rabu, Juli 20, 2022 WIB | Last Updated 2022-07-20T12:43:23Z

 



Oleh : Rosalinda Kristin Dayana

Mahasiswa FKIP Uhamka

Korona atau dikenal dengan istilah covid-19 (Corona Virus diseases-19). Dunia dikejutkan dengan mewabahnya suatu penyakit yang disebabkan oleh sebuah virus ini. Virus yang disinyalir mulai mewabah 31 Desember 2019 di kota Wuhan Propinsi Hubei Tiongkok, saat ini menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia dengan sangat cepat WHO menetapkan tanggal 11 Maret 2020 wabah ini dikatakan sebagai pandemi global. 


Dunia perekonomian semakin lemah, hubungan sosial semakin menurun yang menyebabkan kurangnya interaksi dan kepedulian terhadap sesama,

Semuanya telah merasakan dampak dari virus covid 19 ini, terutama pada dunia pendidikan. Kita harus siap menghadapi perubahan ini, karena cepat atau lambat pendidikan akan mengalami perubahan drastis akibat pandemi covid 19.


Anak-anak yang tadinya belajar dengan tenang, menjadi terganggu. Bahkan banyak anak yang terkendala putus belajar terutama di daerah pedesaan yang sangat minim dan rendah tingkat pendapatan ekonominya. Karena pembelajaran daring harus menggunakan kuota internet. Juga terkendala sinyal yang sering tidak lancar, sehingga menjadikan pembelajaran menjadi sangat terhambat.



Dilansir dari liputan6.com, berikut adalah dampak negatif pembelajaran jarak jauh berkepanjangan:


1. Banyak anak didik tidak bisa menyerap mata pelajaran dengan baik

Salah satu faktor dari poin ini adalah dikarenakan anak didik belum terbiasa mengikuti pembelajaran daring menggunakan aplikasi Zoom. Di sisi lain, kesuksesan PJJ sangat ditentukan oleh dukungan orang tua terhadap anaknya. Namun karena lemahnya pengawasan dari orang tua terhadap anak yang harus belajar di tengah kedaruratan, menyebabkan dampak negatif seperti; anak bermalas malasan dan enggan mengerjakan tugas dari guru, tidak terhindarkan.


2. Keterbatasan Sarana Pendukung

Selain faktor kemalasan, masalah teknis lain yang menyebabkan anak kesulitan mengikuti PJJ adalah bantuan kuota pulsa yang diberikan Kemendikbud, dianggap belum maksimal menutup permasalahan dalam PJJ. Hal ini disebabkan karena banyak anak didik di daerah terluar dan tertinggal yang tidak memiliki gawai, susah sinyal untuk akses internet dan lain-lain.


3. Hubungan Anak Didik dan Guru

Temuan lainnya yaitu hubungan batin antara anak didik dengan guru menjadi dingin karena mereka tidak pernah saling sapa dan bertatap muka secara langsung selama satu tahun. Apalagi peserta didik yang baru saja menduduki kelas 1 baik jenjang SD, SMP dan SMA yang paling merasakan ini. Di mana mereka satu tahun tercatat sebagai siswa, tapi tidak tahu siapa guru dan teman mereka di sekolah yang baru tersebut.


4. Angka Putus Sekolah

Angka putus sekolah (APS) juga terjadi sebagai dampak pembelajaran jarak PJJ saat pandemi COVID-19. Pernyataan itu diungkapkan Pelaksana tugas (Plt.) Direktur SMA, Kemendikbud, Purwadi Sutanto. Menurut Purwadi, salah satu kasus APS terjadi pada siswa SMA di Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada kasus tersebut anak memutuskan menikah dini. “Karena keterbatasan sarana telekomunikasi pendukung PJJ, siswa putus sekolah dan kemudian menikah dini,” ungkap Purwadi secara virtual.


Namun, seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat sudah terbiasa dan harus menerima serta mendukung adanya kebijakan yang telah di buat oleh pemerintah dalam dunia pendidikan. Sebab pada masa pandemi ini, sistem pembelajaran daring merupakan langkah yang paling tepat untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19.


Di balik kesedihan seluruh belahan dunia ini, kita harus mampu mengambil hikmah dari pandemi covid 19 ini. Pandemi covid 19 ini mungkin saja datang sebagai ujian untuk kita semua, apakah kita mampu mencerdaskan kehidupan bangsa walau dalam kondisi seperti ini. 




=