Notification

×

Iklan

Iklan

IPB kini miliki Laboratorium Agromaritim

18 Desember 2021 | Sabtu, Desember 18, 2021 WIB | Last Updated 2021-12-18T09:57:50Z


Serambiupdate.com
- IPB University kini punya stasiun laut di Pulau Seribu, Provinsi DKI Jakarta,  yang akan menjadi ruang pembelajaran mahasiswa dan penelitian dosen dalam mewujudkan Agromaritim 4.0. 


Bertepatan dengan Koordinasi Nasional (Konas) Pesisir X di Bentara Candi Bentar, Jakarta, pekan lalu,  IPB University menerima Surat Keputusan Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL) untuk pendidikan dan riset.


Rektor IPB University Prof Arif Satria mengatakan bahwa dalam memajukan pesisir, ke depan bangsa Indonesia harus mampu beradaptasi dengan menggunakan teknologi 4.0.  


“Sehingga coastal leadership harus diawali dengan transformasi mindset, teknologi dan kolaborasi. Dengan dukungan artificial intelligence, kita bisa melihat kesehatan terumbu karang dan lainnya. Sementara itu, kolaborasi menjadi kunci karena keberhasilan adalah network,” tutur Arif.


Terkait stasiun laut atau laboratorium agromaritim, Arif mengatakan bahwa inovasi menjadi kunci dalam penguatan science and knowledge maritim. Untuk itu keberadaan dan kerja sama atau kolaborasi menjadi kunci keberhasilan laboratorum agromaritim. Keberadaan laboratorium dapat menjadi ruang kolaborasi baru bagi pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat.


Sementara itu, Yonvitner selaku Kepala Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University, menambahkan bahwa fasilitas laboratorium seafarming mendukung program Kampus Merdeka.  


“Selain itu, laboratorium ini juga sebagai ruang pendampingan dan pembinaan masyarakat. Selain sinergi, PKSPL akan menyiapkan long term agromaritim riset strategis melalui seafarming research lab,” tutur Yonvitner.


Dipihak lain, Pamuji Lestari selaku Plt Dirjen Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyampaikan Konas Pesisir X bisa menjadi momentum dalam mengawal blue ekonomi ke depan.  


"Ekonomi tidak bisa jalan kalau ekologi rusak. Maka untuk itu perlu dirancang penangkapan ikan secara terukur, mengingat budidaya berbasis ekspor untuk udang, lobster dan rumput laut,” tutur Pamuji.


(ADP) 

=