Notification

×

Iklan

Iklan

Pembelajaran Jarak Jauh Dapat Berpengaruh pada Emosi Siswa

11 Agustus 2021 | Rabu, Agustus 11, 2021 WIB | Last Updated 2021-08-11T11:51:51Z


Serambiupdate.com
Muhammad Nur Rizal, Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) menyampaikan bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) dapat mempengaruhi emosi siswa.

 

“Hasil penelitian yang kami lakukan pada 1.263 siswa mulai jenjang SD hingga SMA, menunjukkan bahwa 57 persen siswa SD dan SMP merasakan emosi negatif dan 70 persen siswa SMA yang merasakan emosi negatif,” tutur Rizal.

 

Emosi-emosi yang bersifat negatif tersebut bermula dari banyak hal seperti dari bosan, sedih, kurang memahami materi, stres, bingung, merasa kurang bersemangat, merasa terbebani, kurang puas, hingga merasa kesulitan dalam belajar.

 

Rizal menerangkan, “Semakin tinggi jenjang pendidikan, gap antara emosi positif dan negatif semakin lebar. Ini menunjukkan bahwa ada proses belajar, strategi belajar atau kurikulum yang ternyata mungkin tidak tepat atau tidak dibutuhkan siswa dan tidak sesuai dengan perkembangan mental siswa itu sendiri.”

 

Dengan demikian, lanjut dia, terjadi proses belajar yang seragam baik itu jenjang SD hingga SMA. Saat gap emosi negatif semakin lebar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ternyata tugas yang selama ini disampaikan guru tidak bisa meningkatkan kompetensi belajar siswa.

 

“Justru tugas-tugas tersebut menjadi beban. Juga ada kesulitan belajar yang dirasakan anak SD hingga SMA , artinya mereka merasa tidak produktif atau berkurang motivasi selama proses belajar,”imbuhnya.

 

Rizal juga menjelaskan kondisi itu akan memberikan dampak pada penurunan kecerdasan dalam membangun peradaban yang semakin berdampak ke learning loss.

 

“Kesulitan belajar juga menempati posisi tertinggi, ditambah dengan jaringan dan kurangnya motivasi, yang berpotensi terhadap terjadi kehilangan kesempatan belajar ganda,” terang dia.

 

Hingga saat ini, dia belum melihat ada fokus pemerintah untuk menangani masalah kesulitan belajar dan demotivasi sebagai permasalahan mendasar di pendidikan sejak sebelum pandemi. Selama ini terlalu berfokus pada penyelesaian masalah jaringan.

 

Selain itu, semakin dewasa jenjang pendidikan siswa maka semakin merasa tidak berguna proses belajar PJJ karena merasa tidak produktif dan tidak mendapat keterampilan dan pengetahuan baru.

 

Rizal menyarankan agar pemerintah dapat menyusun kurikulum darurat yang mendorong interaksi anak dengan lingkungan sosial sekaligus mengatasi persoalan nyata di kehidupan sehari-hari. Kurikulum darurat tidak cukup hanya mengurangi materi kurikulum kompetensi esensial saja, karena tetap tidak mengubah orientasi dan suasana kebatinan siswa. Kurikulum tersebut terkoneksi dengan keluarga dan kehidupan sosial untuk meningkatkan karakter dan nilai-nilai siswa.

 

“Dukungan orang tua berupa dukungan emosional, sangat dibutuhkan. Peran keluarga sangat kuat untuk membantu proses belajar siswa agar lebih positif dan termotivasi,” imbuh dia. (TS)

=