Notification

×

Iklan

Iklan

Suatu Renungan

16 Juli 2021 | Jumat, Juli 16, 2021 WIB | Last Updated 2021-07-16T15:13:51Z


Drs. Mardanis  Darja, SH.

(Wakil Ketua PRM Situsari-Cileungsi-Bogor.)

Sewaktu penulis menurunkan tulisan yang berjudul “Taqdir Allah”, yaitu pada firman Allah, surat  al-Baqarah,  ayat  243 yang  mengkisahkan  penduduk  satu  daerah  di  masa  Bani Israil  yang berduyun-duyun ke luar dari kampung mereka karena takut mati, sebab di kampung mereka tengah berjangkit wabah penyakit yang sangat berbahaya.


Sementara dalam kisah yang lain yaitu tatkala Umar bin Khattab r.a. akan berangkat ke negeri Syam, beliau dicegah oleh  Abdurrahman bin Auf,  pasalnya, di sana sedang berjangkit wabah penyakit. 


Umar berkata: “Dengan alasan apa engkau mencegah keberangkatanku wahai Abdurrahman?”. 

Abdurrahman bin Auf menjawab: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda”: 

إنّ هاذَ ا السَّقم عذب به الامم  قبلكم فاذا سمعتم به في أرض فلا تدخلوها وإذا وقع  بأرض وأنتم بها فلا تخرجوا فرارا منه .          (رواه البخاريومسلم). 

 “Inna haazaas saqoma ‘uzziba bihil umamu qoblakum, faizaa sami’tum bihi fii ardhin falaa tadkhuluuhaa wa izaa waqo’a bi ardhin wa antum bihaa falaa takhrujuu firooron minhu. (Rowaahul Bukhoorii wa Muslim). 

(“Sesungguhnya penyakit itu siksa Allah pada umat yang sebelummu. Jika kalian mendengar ada wabah berjangkit di suatu daerah, kalian jangan masuk ke derah itu. Dan jika ada wabah berjangkit di tempat kalian berada, maka jangan keluar untuk melarikan diri darinya”).


Menyimak bunyi hadits di atas, yaitu “tentang dilarangnya manusia masuk ke daerah yang sedang terjangkit penyakit menular dan dilarang pula orang-orang yang berada dalam daerah yang terkena wabah untuk ke luar dari daerahnya” (yang sekarang dikenal dengan istilah Lock Down). Itu memang nyata, nabi Muhammad saw. sudah memperkenalkan strategi ini sejak seribu empat ratus tahunan yang lalu dalam menghadapi pandemi. Tetapi yang menarik perhatian penulis yaitu baris pertama dari hadits tersebut yaitu: “Sesungguhnya penyakit itu siksa Allah pada umat yang sebelummu”. Kalimat ini lama menjadi pemikiran penulis, merenung bahkan  ada keinginan untuk bertanya kepada ahli hadits, apa gerangan maksud kalimat ini?!. Kenapa tragedi yang terjadi dikaitkan dengan orang-orang sebelumnya dan dinyatakan sebagai azab terhadap mereka?.


Sedari itu, dalam memecahkan masalah ini, utama  sekali penulis merujuk kepada kitabullah al-Quranul Karim yang menyebutkan bahwa manusia itu adalah sebagai khalifah di bumi sebagaimana diterangkan dalam al-Quran, surat al-Baqorah, ayat 30.

Khalifah disini berarti “kaum yang silih berganti, abad demi abad, generasi demi generasi menghuni bumi”. Jadi, ada keterkaitan generasi ke generasi. Apa yang dilakukan oleh generasi sebelumnya akan diikuti oleh generasi sesudahnya, dan yang dominan disini adalah dalam penyimpangan aqidah tauhid kepada kemusyrikan dan kekafiran dalam rangka menafikan ajaran Islam. Maka sehubungan dengan ini penulis kemukakan kisah-kisah yang terjadi sebagaimana disebutkan al-Quranul Karim.


Al-Quran menyebutkan bahwa agama yang diredhoi Allah adalah “Islam” dengan perintah Allah;  “masuklah kalian  ke dalam Islam itu secara total” (surat al-Baqorah, ayat 208) dan “Janganlah kalian mati kecuali dalam Islam” (surat al-Baqorah, ayat  132 dan surat Ali Imran, ayat 102).  


Demikianlah Allah SWT. telah menetapkan, Islam itulah agama untuk semua umat manusia  mulai dari nabi Adam sampai umat nabi Muhammad saw. yang terakhir di akhir zaman. Tetapi di dalam  perjalanan waktu ada saja di antara manusia dari anak cucu nabi Adam juga yang menyimpangkan kebenaran Islam. Maka tatkala penyimpangan ajaran agama Allah itu sudah sampai pada kondisi yang sangat serius maka Allah mendatangkan seorang nabi atau beberapa orang nabi dan rasul berdakwah ke tempat itu. Dan manakala nabi atau rasul itu tidak sanggup lagi mengajak mereka ke jalan yang benar agar tidak melakukan kemusyrikan menyembah berhala atau kekafiran tak percaya kepada Allah, maka di situlah Allah SWT. menimpakan bencana sebagai azab kepada  mereka tersebab pembangkangan yang mereka lakukan . Sebut saja kisah nabi Nuh as. dimana kaumnya telah terbiasa mengikuti orang-orang  sebelumnya yang menyimpangkan kepercayaan mereka selain kepada syari’at Allah dengan kufur nikmat dan menyembah berhala. Maka Allah tenggelamkan mereka dengan banjir besar. Dari langit turun hujan lebat dan dari perut bumi keluar air mancur yang sangat deras sehingga genangan air  mencapai  puncak bukit. Maka yang selamat dari banjir besar itu adalah orang-orang beriman pengikut nabi Nuh as. dengan menaiki kapal yang sudah disediakan nabi Nuh di puncak bukit. Lalu mereka berlayar dengan tenang dan selamat dari bahaya. 


Kemudian kisah yang terjadi di zaman nabi Ibrahim. Dimana orang-orang sebelumnya menyimpangkan penyembahan dari menyembah Allah kepada menyembah berhala. Bahkan ayah nabi Ibrahim sendiri yang bernama Azar, berprofesi sebagai pembuat patung berhala. Dan sampailah pada pemerintahan raja Namrudz bin Kan’an, raja Babilonia pada waktu itu, di masa raja inilah penyimpangan ketauhidan dan kesombongan sebagai penguasa semakin menjadi-jadi, sampai-sampai ia menganggap dirinya Tuhan. Nabi Ibrahim sebagai utusan Allah berda’wah mengajaknya agar kembali menjalankan syariat Islam namun raja itu menolak dengan congkaknya bahkan beraksi membakar nabi Ibrahim hidup-hidup, namun Allah menyelamatkan nabi Ibrahim dengan perintah agar api itu dingin dan selamatlah nabi Ibrahim tanpa terbakar sedikitpun. Nabi Ibrahim tidak sanggup lagi menda’wahi raja Namrudz disebabkan begitu besar kekuasaannya. Sebab itu Allah menurunkan azabNya dengan mengirimkan nyamuk sebanyak-banyaknya sehingga menutupi cahaya matahari dan menyuruh nyamuk itu menyerang tentara Namrudz, sekaligus memakan darah dan dagingnya sampai habis, hingga tinggal tulang belulangnya. Sedangkan terhadap raja Namrudz, Allah menyuruh seekor nyamuk untuk masuk dan tinggal di dalam hidungnya selama empat ratus tahun. Akibatnya, jika kepalanya sakit karena gangguan nyamuk itu, terpaksa kepalanya dipukuli dengan pentungan, yang mengakibatkan ia mati.


Dan Kisah kaum nabi Luth. Mereka terbiasa dengan  praktek LGBT, homosex dan sebangsanya. Mereka membangkang terhadap ajakan da’wah nabi Luth agar kembali ke jalan yang benar. Akhirnya mereka dimusnahkan dengan amukan angin badai yang sangat dahsyat.


Begitupun di Mesir berkuasa raja-raja Fir’aun. Mereka menyimpangkan ajaran Islam kepada hal-hal yang berbuat kesyirikan, bertuhankan kepada matahari sebagai dewa matahari dan lain-lain sehingga sampailah Mesir diperintah oleh raja fir’aun yang bernama al-Walid bin Mush’ab bin Arrayan yang mengaku dirinya  “Tuhan”. Pada pemerintahan raja inilah diutus nabi Musa dan saudaranya nabi Harun berda’wah kepadanya tapi da’wah nabi Musa tidak diterima  bahkan nabi Musa dan pengikutnya akan dibunuh dan dikejar-kejar sampai ke laut merah dan di laut itulah raja Fir’aun yang sombong karena kekuasaannya itu ditenggelamkan bersama para tentaranya. Tetapi sesuai dengan apa yang disebutkan al-Quran, jasad fir’aun itu diselamatkan dan sekarang masih ada sebagai mummi yang disimpan dalam piramyda Mesir, sebagai bukti nyata dan sekaligus sebagai pembuktian kebenaran al-Quran.


Kisah-kisah di atas bercerita tentang generasi generasi sebelumnya yang mewariskan sesuatu yang bertentangan dengan syariat Allah kepada generasi-generasi sesudahnya sehingga sampailah pada  kondisi puncak yang sangat susah dan berat untuk dikendalikan maka disitulah Allah SWT. mendatangkan  bencana  menimpakan azabNya.


Nah, bagaimana dengan generasi sekarang?. Kalau generasi ini berbuat sesuatu yang menyimpangkan syariat Allah, mendangkalkan pemahaman Islam, berusaha menjadikan orang agar berpaham sekuler bahkan berupaya  menghancurkan Islamisme dan  menggantinya  dengan isme-isme lain yang berdasarkan kepada pemikiran manusia dan selanjutnya diikuti oleh generasi selanjutnya, apalagi generasi tersebut mempunyai kekuasaan yang kuat untuk membenarkan isme-isme dan ideologi yang menyimpang itu, maka disitulah akan turun laknat dan azab Allah.


Sekarang kita kembali kepada pokok persoalan, yaitu adanya keterkaitan antara generasi sebelumnya dengan generasi sekarang. Apabila generasi sebelumnya meletakkan dasar-dasar keburukan yang bertentangan dengan aturan Allah dan diikuti serta dipahami oleh generasi sekarang sebagai suatu kebenaran, apalagi dibela dengan power kekuasaan, maka Allah SWT. akan melaknati dan menimpakan azabNya  misalnya berupa penyakit, maka dosa-dosanya akan kembali kepada generasi sebelumnya yang menanamkan bibit-bibit  keburukan tersebut. Dan sebaliknya apabila generasi sebelumnya  menanamkan dasar-dasar kebaikan yang sesuai dengan Sunnatullah dan Sunnah Rasulullah  dan diikuti serta diamalkan oleh generasi selanjutnya maka pahalanya akan mengalir juga kepada generasi sebelumnya  sebagai amal jariyah.


Oleh sebab itu, ungkapan-ungkapan di atas, memberikan pelajaran kepada kita generasi sekarang, agar tidak meletakkan dasar-dasar  atau mengembangkan bibit-bibit  keburukan yang akan meracuni dan menyesatkan generasi mendatang baik di ranah hukum, pendidikan, pemutar balikkan fakta sejarah dan lain-lain sebagainya. Apabila dasar-dasar keburukan tersebut menjadi panutan bagi generasi mendatang yang notabenenya  tidak diredhoi Allah, akan menimbulkan bala dan laknat dari yang Maha Kuasa, sebut saja,  berupa penyakit dan semisalnya. Dan dosanya tidak saja dipikul oleh generasi itu saja, tapi juga  akan kembali kepada generasi yang mencetuskannya.


Semoga kisah-kisah masa lalu itu dapat memberikan pembelajaran kepada generasi sekarang dan generasi mendatang untuk mendapatkan “baldatun, thoyyibatun wa robbun ghofuur”- (Negeri yang aman sentosa di bawah perlindungan Tuhan Yang Maha Pengampun).

Jum’at,  16 Juli 2021 / 6 Zulhijjah 1442 H,

=