Notification

×

Iklan

Iklan

Kesejahteraan Petani di Era Modern

Sabtu, 24 September 2022 | Sabtu, September 24, 2022 WIB | Last Updated 2022-09-24T03:17:00Z

 



 



Oleh : Totty Dwi Syamba

Mahasiswa FEB Uhamka



Sektor pertanian merupakan penggerak utama perekonomian bagi masyarakat pedesaan di Indonesia. Indonesia sangat potensial dalam sektor pertanian karena memiliki sumberdaya yang sangat besar. Sektor pertanian menjadi salah satu komponen pembangunan nasional  guna mengentaskan kemiskinan. 

Pentingnya peran sektor pertanian dalam pembangunan nasional selain mensejahterakan petani juga sebagai penyerap tenaga kerja, menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB), sumber devisa, bahan baku industri, sumber bahan pangan dan gizi, serta pendorong bergeraknya sektor-sektor ekonomi lainnya sehingga pemerintah menjadikan sektor pertanian menjadi prioritas utama. Untuk mencapainya, tentunya pemerintah butuh target sasaran indikator keberhasilan dan upaya-upaya dalam mencapai hal tersebut.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mencetuskan motto “Pertanian yang Maju, Mandiri dan Modern” agar pertanian Indonesia dalam tantangan apapun tetap berproduksi dan turut menyediakan pangan untuk negara-negara lainnya sehingga pertumbuhan perekonomian nasional ditopang dari sektor pertanian.

Oleh karena itu, untuk mengimplementasikan pertanian yang maju, mandiri dan modern, langkah awal yang dilakukan Menteri Pertanian ialah membangun koordinasi dan konsolidasi dengan semua kementerian/lembaga agar saling menunjang atau tidak adanya ego semata dalam membangun pertanian dan mensejahterakan petani itu sendiri. Kemudian, peran Kementerian Pertanian harus selalu hadir di sisi para petani dan mendorong daerah untuk meningkatkan produksi pangan.

Lantas bagaimana keadaan petani itu sendiri di Indonesia?

Pada kenyataannya, dari seluruh penduduk miskin di Indonesia, 49% menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Sungguh ironis bagi Indonesia yang konon terkenal sebagai negara agraris. Petani Indonesia memang selalu menempati posisi yang rawan dalam hal kesejahteraan. Mayoritas petani Indonesia merupakan petani guram, yakni petani yang hanya mengusahakan lahan kurang dari setengah hektare.

Tuntutan untuk segera memenuhi kebutuhan rumah tangga membuat banyak di antara mereka yang memilih beralih pekerjaan. Alternatif lain yang akhirnya mereka pilih adalah menjual lahan untuk kegunaan lain seperti untuk industri, jalan tol, dan properti.

Langkah ini memberikan pendapatan jangka pendek yang jauh lebih tinggi dibandingkan penghasilan dari kegiatan bertani. Menurut kelompok umur, persentase petani yang berumur 65 tahun ke atas atau tergolong lanjut usia cukup besar, yakni 14%.

Bagi petani yang berusia relatif muda melihat banyak peluang untuk beralih pekerjaan ke sektor lain yang lebih menjanjikan. Petani lanjut usia berkemungkinan tetap bertahan di sektor pertanian, namun entah sampai berapa lama mereka mampu melanjutkan usaha pertanian mengingat  buruh pertanian juga semakin langka.

 

Laju pertumbuhan produksi pangan relatif lambat jika dibandingkan dengan kebutuhan pangan yang terus meningkat akibat pesatnya pertumbuhan penduduk. Luas lahan pertanian terus berkurang seiring makin gencarnya konversi lahan ditambah kurangnya apresiasi terhadap petani. Pada akhirnya hal-hal tersebut mengancam program pencapaian swasembada pangan. Seperti yang kita ketahui Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang sangat tinggi di sektor pertanian.

Apresiasi kepada petani diperlukan guna menigkatkan produksi pertanian di Indonesia. Pemerintah tinggal berusaha mengelola sehingga selain meningkatkan produksi pangan juga dapat mengangkat kesejahteraan petani. Produksi pangan Indonesia saat ini tergolong cukup baik meskipun masih mengimpor. Bagaimanapun impor memang masih diperlukan untuk mengendalikan harga, namun yang perlu diperhatikan adalah impor tersebut jangan sampai mematahkan semangat petani, apalagi menyakiti petani kita.

Pemerintah harus memastikan produksi pertanian khususnya dari petani kecil dapat terserap dengan harga yang cukup tinggi sehingga petani jangan sampai merugi. Sebagai contoh, kontroversi mengenai impor jagung pada saat mulai panen raya pada Januari lalu.

 


×
Berita Terbaru Update