Notification

×

Iklan

Iklan

Bagaimana Akuntansi Berperan di dalam Metaverse?

Selasa, 16 Agustus 2022 | Selasa, Agustus 16, 2022 WIB | Last Updated 2022-08-16T04:59:00Z

  


Oleh : Syifa Aulia Rahma

Mahasiswa FEB Uhamka

 

            Seperti yang kita tahu bahwa metaverse menjadi perbincangan setelah Mark Zuckerberg mengubah nama perusahaannya yang tadinya bernama Facebook menjadi Meta. Mark juga mengungkapkan visinya untuk membangun dunia virtual bernama metaverse. Dalam imajinasi Mark, metaverse berwujud dunia virtual yang membawa pengalaman dunia nyata, bukan hanya aplikasi saja. Tren dan konsep metaverse sebenarnya sudah muncu sejak lama, namun dengan seiring dengan majunya teknologi, metaverse mendapatkan popularitas dan menarik perhatian.  Menurut Mark untuk menghadirkan dunia metaverse, teknologi AR harus dipadukan dengan teknologi VR dan didukung oleh AI.

Secara singkat, AR atau Augmented Reality adalah teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan ataupun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata lalu memproyeksikan benda-benda tersebut secara realitas dalam waktu nyata. Sementara Virtual Reality (VR) adalah teknologi yang mampu menciptakan simulasi. Dimana simulasi ini bisa sama persis dengan dunia nyata, seperti suasana saat seorang berjalan mengelilingi kota dan segala bentuk aktivitas lainnya. Sedangkan AI atau Artificial Intelligence yaitu sebuah teknologi yang memungkinkan sistem komputer, perangkat lunak, program dan robot untuk “berpikir” secara cerdas layaknya manusia. Dan di dalam metaverse juga terdapat mata uang digital yang memungkinkan pemain untuk melakukan aktivitas jual beli.

Istilah Metaverse ini pertama kali muncul di salah satu novel karya Neal Stephenson yaitu Snow Crash, yang dirilis pada tahun 1992 dan novel Ready Player One karya Ernest Cline (2011). Dalam kedua novel tersebut, metaverse digambarkan sebagai ruang yang menghubungkan dunia virtual dan AR. Di dalam novel ini, mengisahkan bahwa manusia sebagai avatar yang bisa berinteraksi dengan avatar lainnya dalam ruang virtual 3 dimensi, yang merupakan metafora dari dunia nyata. Menurut Matthew Ball seorang venture kapitalis dan penulis metaverse scrimmer mendefinisikan metaverse adalah jaringan luas dari dunia virtual 3 dimensi yang bekerja secara real-time dan presisten. Serta mendukung berkesinambungan identitas, objek, sejarah, pembayaran dan hak yang mana dunia itu dialami secara serempak oleh jumlah pengguna yang tidak terbatas.

            Selanjutnya yang menjadi pertanyaan bagaimana akuntansi melihat virtual asset sebagai tangible atau intangible asset yang dapat diakui dalam neraca perusahaan. Masalah lainnya dalam dunia metaverse yaitu pajak yang akan dibebankan terhadap asset-aset virtual. Meskipun pemerintah telah menekankan adanya pengenaan pajak atas aset mata uang kripto, tentu hal tersebut tidak sama ketika ada transaksi jual-beli virtual land yang terjadi dalam dunia metaverse. Pastinya para ilmuwan atau ahli akuntansi akan bekerja sangat keras untuk menciptakan teori akuntansi yang baru yang bisa menyesuaikan sistem yang ada di dunia metaverse. Tetapi, metaverse mendapat respon yang lumayan positif sebagai salah satu tekonologi yang akan digunakan di masa depan.

×
Berita Terbaru Update