Notification

×

Iklan

Iklan

Minat Literasi Rendah dan Berita Hoaks

Sabtu, 18 Juni 2022 | Sabtu, Juni 18, 2022 WIB | Last Updated 2022-06-18T02:26:00Z

  


Oleh : Wanda Adelia Susanti
Mahasiswa FEB Uhamka

Literasi sendiri pada umumnya dikenal dengan kemampuan  dan keterampilan seseorang dalam membaca, menulis, berbicara menghitung serta memecahkan masalah di dalam kehidupan sehari-hari. Di Indonesia, budaya literasi sendiri masih dibawah dibandingkan dengan negara lainnya. UNESCO menyebutkan Indonesia menjadi negara dengan urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, yang artinya minat baca masyarakan Indonesia sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Bagaimana bisa dengan total penduduk 273 juta tetapi minat baca sangat rendah?

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) RI dari Indeks Aktifitas Literasi Membaca (Alibaca) mendapatkan bahwa akar penyebab kurangnya minat baca masyarakat Indonesia adalah kurangnya akses untuk mendapatkan bahan literasi terutama di daerah yang terpencil. Ironisnya, meski minat membaca buku rendah, tetapi masyarakat Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari. Apakah kurangnya akses mendapatkan bahan literasi benar menjadi penyebab utamanya?

Padahal fungsi gadget sendiri juga bisa digunakan untuk literasi, atau yang bisa disebut dengan literasi digital. Melalui gadget banyak informasi yang beredar dan bisa kita dapatkan dengan gmudahnya. Namun, sayangnya banyak informasi yang beredar tidak dikatahui fakta dan kebenarannya seperti apa. Dan informasi yang di dapatkan juga bukan dari media yang bisa dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tetapi, kebanyakan masyarakat malah mempercayai portal-portal berita palsu dan akun-akun penyebar hoaks tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu.

Selain kurangnya minat literasi masyarakat, menurunnya kepercayaan masyarakat kepada media arus utama juga menyebabkan mereka lebih banyak mempercayai berita hoaks. Terlebih lagi sekarang banyak berita dengan judul yang kontroversi, yang membuat masyarakat menjadi penasaran dan akhirnya malah menyudukan suatu pihak karena judul yang clickbait tersebut. Judul yang kontroversial tersebutlah yang membuat orang-orang merasa tertarik untuk membaca dan berujung dengan tidak memperhatikan fakta dan kebenarnnya.

Masyarakat kita juga terkadang gampang percaya karena adanya kalimat hasutan dan ajakan di portal berita palsu tersebut. Dan kadang malah menyebarluaskan ke grup whatsapp keluarga tanpa tahu kebenarannya. Hal ini sangat merugikan jika berita tersebut juga dipercaya orang lain. Karena rekam jejak digital kita susah dihilangkan, namun ada fitur-fitur yang dapat dipakai untuk menanggulangi hal tersebut. Tetapi hal tersebut seharusnya tidak diulangi lagi, apalagi berita yang dapat membuat perdebatan. Sebaiknya kita berhati-hati dalam membagikan berita, dan lebih mencerna fakta dan kebenarannya. Berita hoaks juga susah untuk dihilangkan, maka darii tu kita harus bisa menjadi pembaca yang bijak.

Dengan demikian, perlu adanya tindakan membangun literasi media dan menjembatani polarisasi itu. Pemberlakuan UU ITE juga harus diperjelas karena hal tersebut belum menyasar pembuat hoaks. Pemerintah dan masyarakat harus bekerjaama dalam meningkatkan budaya literasi agar tidak mudahnya terbawa pengaruh dengan berita hoaks yang dapat merugikan banyak pihak. Dan diharapkannya pembuat berita hoaks dapat menanggung akibatnya atas perbuatan yang sudah ia lakukan.


×
Berita Terbaru Update