By. AHp
Di tanah yang sunyinya dipenuhi doa,
manusia datang membawa dirinya yang paling rapuh.
Bukan membawa kemegahan dunia,
melainkan hati yang letih oleh dosa dan luka.
Padang Arafah menjadi saksi
betapa manusia sering tersesat
dalam ambisi, kesombongan, dan lupa arah.
Namun di tempat itu pula,
Allah membuka pintu ampunan selebar langit.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu…”
— QS. Ali ‘Imran: 133
Langit Arafah tak pernah menolak tangis.
Setiap air mata jatuh
seolah sedang membersihkan debu-debu maksiat
yang lama menempel di hati.
Ada jutaan tangan terangkat,
namun setiap doa terasa begitu pribadi.
Di tanah pengampunan itu,
manusia belajar bahwa hidup bukan tentang
siapa yang paling kaya atau paling dipuji,
melainkan siapa yang pulang kepada Allah
dengan hati yang bersih.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.”
— QS. Al-Baqarah: 222
Senja turun perlahan di ufuk Arafah.
Langit memerah seperti lembar taubat
yang mulai ditulisi harapan baru.
“Aku mungkin pernah jauh, ya Allah…
tetapi hari ini aku ingin kembali.”
Sebab di Tanah Pengampunan,
setiap sujud mengajarkan satu hal—
bahwa rahmat Allah
selalu lebih luas daripada dosa manusia.
“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
— QS. Al-A’raf: 156
Jambi, 25
Mei 2026
