By. AHP
Takbir menggema di pagi
Idul Qurban.
Manusia berbondong menuju masjid,
membawa hewan terbaik,
mengenakan pakaian terbaik,
namun belum tentu membawa hati yang terbaik.
Seorang lelaki tua
menggiring kambing kecilnya.
Bukan yang paling mahal,
bukan pula yang paling indah.
Tetapi ia membawanya dengan air mata dan doa.
Sebab ia takut,
amalnya hanya berhenti di mata manusia.
Ia teringat kisah Nabi
Ibrahim
dan Nabi Ismail,
tentang cinta yang dikalahkan oleh ketaatan.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya aku bermimpi
bahwa aku menyembelihmu...”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Qurban bukan sekadar
menyembelih hewan.
Qurban adalah menyembelih kesombongan,
riak pujian, dan cinta berlebihan kepada dunia.
Saat pisau mulai
diarahkan,
lelaki tua itu berdoa lirih:
“Ya Allah, jangan jadikan
ibadah ini
untuk dipuji manusia.”
“Daging dan darahnya itu
tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Maka Idul Qurban sejatinya
bukan tentang siapa paling besar qurbannya,
tetapi siapa paling ikhlas hatinya.
Sebab amal yang terlihat
besar di bumi
bisa menjadi kecil di langit
jika kehilangan keikhlasan.
Jambi, 24 Mei 2026
