Oleh : Harith Aqhari, Mahasiswa Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh
Berdasarkan berita serambinews.com tanggal 8 april 2026, bahwa harga plastik terus naik dan diperkirakan bertahan satu tahun. Hal ini menjadi dilema karena masyarakat tidak bisa lepas dari penggunaan plastik. Tanpa kita sadari, dapur rumah menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar setiap harinya. Sisa makanan, potongan sayur, hingga kulit buah sering kali langsung dibuang tanpa pemanfaatan lebih lanjut. Salah satu limbah yang paling sering diabaikan adalah kulit pisang. Teksturnya yang lembek dan cepat menghitam membuatnya dianggap tidak berguna. Padahal, di balik itu, kulit pisang menyimpan potensi besar sebagai bahan alternatif ramah lingkungan, termasuk sebagai bioplastik.
Di sisi lain, dunia saat ini sedang
menghadapi dua persoalan besar yang saling berkaitan, yaitu meningkatnya
timbunan sampah plastik dan mahalnya harga plastik konvensional. Plastik
berbahan dasar minyak bumi tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga
mengalami kenaikan harga seiring dengan meningkatnya biaya produksi dan
ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Hal ini berdampak langsung pada
masyarakat, terutama pelaku usaha kecil yang menggunakan plastik sebagai
kemasan utama.
Menurut data dari
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia menghasilkan sekitar
68 juta ton sampah
setiap tahun, dan sekitar 17% di antaranya merupakan
sampah plastik. Angka ini menunjukkan bahwa
plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar pencemaran lingkungan. Bahkan,
laporan dari World Bank menyebutkan bahwa sebagian besar sampah plastik di
negara berkembang tidak terkelola dengan baik, sehingga berakhir di laut dan
mencemari ekosistem. sampah organik juga masih
mendominasi, khususnya di Banda Aceh yang menghasilkan sekitar 230-370 ton per
hari dengan persentase mencapai 60% sampai 89,1% dari total sampah harian.
Permasalahan tidak berhenti pada jumlahnya saja, tetapi juga pada sifat
plastik itu sendiri.
Plastik konvensional membutuhkan waktu
yang sangat lama untuk terurai
secara alami. Sebagian
besar plastik membutuhkan waktu antara 100 hingga 500 tahun untuk terurai, tergantung pada
jenisnya. Selama proses tersebut,
plastik akan terpecah menjadi mikroplastik yang sangat berbahaya bagi
lingkungan dan kesehatan manusia.
Dampak dari plastik sangat
luas. Plastik yang dibuang sembarangan dapat menyumbat saluran air dan
menyebabkan banjir. Di laut, plastik sering dikira makanan oleh hewan laut
seperti ikan, penyu, dan burung, yang akhirnya menyebabkan kematian. Selain
itu, mikroplastik juga dapat masuk ke dalam rantai makanan manusia melalui
konsumsi ikan atau air yang terkontaminasi. Dalam jangka panjang, hal ini
berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, seperti gangguan hormon hingga
risiko penyakit kronis.
Melihat berbagai permasalahan
tersebut, dibutuhkan solusi alternatif yang tidak hanya ramah lingkungan,
tetapi juga ekonomis. Salah satu solusi yang mulai dikembangkan adalah
bioplastik, yaitu plastik yang terbuat dari bahan alami dan dapat
terurai dengan cepat.
Di sinilah kulit
pisang menjadi sangat menarik. Kulit pisang mengandung pati, selulosa,
dan senyawa organik lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar
bioplastik. Selain itu, kulit pisang juga mudah didapatkan, murah, dan
merupakan limbah yang melimpah di Indonesia. Dengan
teknologi sederhana, kulit pisang dapat diolah menjadi lembaran bioplastik
yang memiliki sifat fleksibel dan dapat digunakan sebagai alternatif kantong
plastik.
Proses pembuatan bioplastik dari kulit pisang
relatif sederhana. Kulit pisang dicuci
dan dipotong kecil-kecil,
kemudian dihaluskan dan dicampur dengan bahan tambahan seperti gliserin dan
sedikit asam untuk meningkatkan elastisitas. Campuran tersebut kemudian
dipanaskan hingga mengental dan dicetak menjadi lembaran tipis. Setelah
dikeringkan, hasilnya adalah bioplastik yang dapat digunakan sebagai pembungkus
atau kantong ramah lingkungan. Keunggulan utama bioplastik dari kulit pisang
adalah kemampuannya untuk terurai dengan
cepat di alam. Berbeda dengan plastik konvensional yang membutuhkan
ratusan tahun, bioplastik dapat terurai dalam waktu beberapa minggu hingga
beberapa bulan tergantung kondisi lingkungan. Hal ini menjadikannya solusi yang
jauh lebih aman bagi ekosistem.
Selain manfaat lingkungan, penggunaan bioplastik juga dapat menjadi solusi atas mahalnya
harga plastik. Karena bahan bakunya berasal dari limbah, biaya produksinya relatif lebih rendah
jika
dikembangkan secara massal. Ini
membuka peluang besar bagi masyarakat, khususnya usaha kecil dan menengah,
untuk beralih ke kemasan ramah lingkungan tanpa terbebani biaya tinggi. Namun, pengembangan bioplastik dari kulit pisang juga menghadapi beberapa
tantangan. Salah satunya
adalah kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai manfaat limbah
organik. Selain itu, kualitas bioplastik masih perlu ditingkatkan agar mampu
bersaing dengan plastik konvensional dalam hal kekuatan dan daya tahan.
Di sinilah pentingnya peran edukasi
dan inovasi. Perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat perlu bekerja sama
untuk mengembangkan teknologi yang lebih baik serta meningkatkan kesadaran akan
pentingnya pengelolaan limbah. Dengan dukungan yang tepat, bioplastik dari
kulit pisang bukan hanya menjadi solusi alternatif, tetapi juga dapat menjadi
produk unggulan yang bernilai ekonomi tinggi. Lebih jauh lagi, pemanfaatan
kulit pisang sebagai bioplastik juga dapat menjadi bagian dari gerakan ekonomi
sirkular, di mana limbah tidak lagi dianggap sebagai sampah, tetapi sebagai
sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Hal ini tidak hanya mengurangi
pencemaran, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru.
