Notification

×

Iklan

Iklan

Dosen Gizi FIKES Uhamka; Dilema Perubahan Iklim, Inilah Dampak pada Ketahanan Pangan

17 Februari 2024 | Sabtu, Februari 17, 2024 WIB | Last Updated 2024-02-17T07:14:44Z

 


Serambiupdate.com 
- Imas Arumsari, Kaprodi Gizi Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Prof. DR HAMKA (Uhamka) menjadi narasumber dalam acara Teras tvMu dengan tema Pola Konsumsi Pangan Berkelanjutan dalam Menjawab Tantangan Perubahan Iklim, Sabtu (16/2).

 

Pada kesempatan ini, Imas Arumsari menjelaskan program studi Gizi FIKES Uhamka telah terakreditasi A menuju unggul. Keunggulan yang dimiliki oleh prodi gizi terdapat dibidang gizi dan pangan. Sehingga dua keunggulan ini diintegrasikan dalam kegiatan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Ilmu gizi secara mendasar memiliki tiga bidang utama yaitu, gizi klinis, gizi komunitas, dan manajemen pelayanan makanan.  Menurutnya, sebagai umat Islam memandang pangan halal merupakan kewajiban. Maka prodi Gizi FIKES Uhamka mengangkat isu gizi dan pangan halal dan turut mendukung adanya trend dalam menjamin lingkungan yang halal untuk masyarakat Islam.

 

“Untuk meningkatkan sumber daya manusia, baik mahasiswa maupun dosen, maka kami harus terbuka terhadap segala jenis perkembangan sumber daya manusia di institusi. Di prodi Gizi FIKES Uhamka, beberapa dosen juga merupakan auditor halal, selain itu dosen-dosen juga diberikan pelatihan untuk mendampingi Usaha, Kecil dan Menengah (UKM) mendapatkan sertifikasi halal. Kemudian dari segi mahasiswa, kami selalu mengembangkan kurikulum untuk tantangan zaman dalam bentuk mata kuliah. Beberapa mata kuliah tersebut tidak hanya diselenggarakan di dalam kelas melainkan di sekolah-sekolah, pesantren, rumah sakit, Badan Pangan Nasional dan mitra lainnya,”tutur Imas.

 

Imas juga menuturkan, pangan halal bukan hanya kepentingan umat muslim saja tetapi juga masyarakat luas. Konsep pangan halal sendiri merupakan keamanan dalam mengonsumsi makanan, maka agama di luar Islam pun juga wajib mengonsumsi pangan yang aman agar tidak terjangkit suatu penyakit. Selain itu, dengan adanya krisis iklim sebagai tantangan yang harus manusia hadapi, maka sangat berkaitan dengan ketahanan pangan. Karena dengan kriris iklim ini menyebabkan stok pangan tidak tercukupi untuk memenuhi seluruh kebutuhan manusia.

 

“Sebagai akademisi dibidang gizi dan pangan, krisis iklim ini menjadi isu yang diperhatikan oleh praktisi karena ini sangat berkaitan dengan masalah-masalah gizi. Masalah-masalah gizi seperti, kekurangan gizi, obesitas, diabetes militus, dan penyakit lain yang menular ataupun tidak menular sehingga berdampak pada produktivitas. Kemudian krisis iklim juga memengaruhi rantai makanan dari mulai produksi, distribusi hingga konsumsi,” ujar Imas.

=