Notification

×

Iklan

Iklan

Pembentukan Pendidikan Karakter Perlu Dimulai Sejak Dini, Ini Kata Muhadjir Effendy

26 Oktober 2023 | Kamis, Oktober 26, 2023 WIB | Last Updated 2023-10-26T01:37:38Z

 


Serambiupdate.com
Menteri Koordinator  Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, pendidikan karakter pada anak harus dilakukan sejak dini untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman  toleransi secara utuh, guna menjaga dan melestarikan persatuan bangsa Indonesia.

 

Hal itu disampaikan pada Selasa, 24 Oktober, di Konferensi Nasional Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) ke-VIII Tahun 2023 di Provinsi Papua, saat memberikan sambutan tentang Peranan Pemerintah dalam Membangun Karakter Anak Bangsa Sejak Usia Dini Berdasarkan Nilai-nilai Pancasila.

 

Muhadjir menyatakan bahwa sangat penting untuk mempertahankan kemajemukan melalui persatuan untuk meneruskan tren positif pembangunan bangsa Indonesia di masa yang akan datang. Selain itu, Indonesia saat ini sedang mempersiapkan diri untuk menerima dampak positif dari bonus demografi, yang akan mencapai puncaknya pada tahun 2045.

 

“Membangun kesadaran dan pemahaman yang cukup tentang toleransi adalah bagian dari pendidikan karakter yang harus dimulai sejak anak-anak masih kecil. Untuk kepentingan masa depan Indonesia, sangat penting untuk mewujudkan pendidikan yang luas di Indonesia,” kata Muhadjir.

 

Muhadjir menjelaskan bahwa dua karakter penting yang harus ditanamkan pada anak-anak sejak dini adalah karakter personal, yang melibatkan penilaian baik dan buruk, kedisiplinan, dan kemandirian. Lalu karakter sosial, yang melibatkan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain dengan baik, dan nilai-nilai toleransi, Dalam rangka mengwujudkan itu Muhadjir meminta para pemimpin agama dan rohaniawan yang hadir untuk mempertimbangkan kembali Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Muhadjir menjelaskan bahwa, pada dasarnya, undang-undang ini menekankan pentingnya karakter melalui pendidikan yang holistik dan integratif.

 

Pemerintah kini berusaha mewujudkan model pendidikan itu dengan membangun Pendidikan Anak Usia Dini-Holistik Integratif (PAUD-HI), yang akan terhubung langsung dengan Posyandu untuk memberikan edukasi kesehatan dan pengasuhan anak sejak dini.

 

Upaya ini juga seharusnya mencakup sekolah dasar hingga sekolah menengah. Muhadjir menyatakan bahwa Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017, yang sebelumnya disebut sebagai sekolah penuh waktu, sebenarnya mengarahkan sekolah resmi untuk bekerja sama dengan lembaga pendidikan keagamaan untuk membentuk pendidikan yang holistik dan integratif.

 

“Anak-anak dapat berpartisipasi dalam kegiatan di tempat-tempat keagamaan setelah selesai sekolah. Itu yang dulu saya sebut sebagai sekolah full day. Ini bukan berarti anak-anak pergi ke sekolah sepanjang hari, tetapi sekolah bertanggung jawab atas kegiatan anak selama hari itu, baik saat mereka berada di masjid, gereja, pura, atau tempat lain,” ujar Muhadjir.

 

Dengan integrasi ini, sekolah dapat memantau kegiatan anak secara teratur. Ini juga memungkinkan kegiatan di luar kelas dimasukkan ke dalam nilai ekstrakurikuler. Pada satu sisi, peraturan itu memungkinkan pembiayaan insentif untuk guru keagamaan untuk dimasukkan ke dalam anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Tindakan ini dilakukan sebagai bukti kepedulian pemerintah terhadap guru keagamaan, yang seringkali tidak mendapatkan insentif yang cukup saat mengajar pelajaran agama kepada anak-anak mereka.

 

"Lembaga keagamaan sebetulnya dapat berpartisipasi dalam Perpes itu, karena Perpres itu memungkinkan penggunaan dana BOS untuk memberikan insentif kepada guru agama di luar sekolah, seperti guru ngaji, pendeta di gereja, pengajar agama di pura, dan seterusnya," ucapnya.

 

Muhadjir mengatakan pentingnya upaya integrasi untuk mencegah efek negatif penggunaan gadget oleh anak-anak. Sekolah dan lembaga keagamaan menjadi sangat penting, terutama bagi penduduk kota. Masjid, gereja, pura, dan tempat keagamaan lainnya adalah tempat yang sempurna untuk mencegah efek gadget yang merugikan dan membentuk kepribadian anak.

 

“Ketika perkembangan dunia semakin terbuka seperti ini, saya percaya bahwa peran agama harus semakin intensif. Lingkungan di mana anak-anak dibesarkan sangat menentukan dalam pembentukan karakter mereka, terutama karena pada usia ini mereka membutuhkan role model,” ujar Muhadjir.

 

Rissa Yuliana/adp

=