Notification

×

Iklan

Iklan

Rektor Uhamka: Budaya Identitas Diri yang Harus Diwariskan

22 Juni 2023 | Kamis, Juni 22, 2023 WIB | Last Updated 2023-06-22T18:54:56Z


Serambiupdate.comBahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (Uhamka) bersama Pusat Studi Betawi menyelenggarakan Kuliah Umum dalam rangka merayakan Hut Ke-496 Jakarta dengan mengangkat tema “Jadi Karya untuk Nusantara” di Aula Ahmad Dahlan FKIP Uhamka, Kamis (22/6).


Kegiatan ini dihadiri oleh Prof Gunawan Suryoputro selaku Rektor Uhamka, Desvian Bandarsyah selaku Dekan FKIP Uhamka, Prof Prima Gusti Yanti selaku Ketua Prodi PBSI FKIP Uhamka, Nur Aini Puspitasari selaku Sekretaris Prodi PBSI Uhamka, Edi Sukardi selaku Ketua Pusat Studi Betawi, Tutur Denes sebagai pendiri batavia teater denes, segenap dosen PBSI FKIP Uhamka, dan mahasiswa PBSI FKIP Uhamka.


Rektor Uhamka, Prof Gunawan Suryoputro mengungkapkan bahwa budaya merupakan aspek kehidupan yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia saat ini. Walaupun budaya telah meninggalkan berbagai jejak sejarah, budaya memiliki tradisi dan nilai luhur yang penting bagi masyarakat. Budaya merupakan identitas diri yang harus terus diwariskan oleh manusia. Maka dari itu, acara ini penting untuk diikuti karena penuh makna akan pentingnya mewarisi budaya hingga anak cucu kita nanti, khususnya budaya betawi.


"Budaya merupakan identitas diri kita saat ini. Kita mewakili nilai dan kearifan lokal dari budaya yang kita miliki. Maka anak muda saat ini harus dapat mewarisi itu, agar nilai-nilai itu tidak punah oleh waktu dan kemajuan iptek saat ini," ujarnya.


Desvian Bandarsyah Dekan FKIP Uhamka menyampaikan apresiasinya atas terlaksananya kegiatan ini. Menurunya, budaya harus terus dilestarikan dengan menyerap entitas terkecil dari wujud budaya yang ada. Ia pun meyakini budaya betawi tidak akan lekang oleh waktu.


"Saya sangat mengapresiasi adanya kegiatan ini. Ketika kita bicara tentang globalisasi sebagai entitas kebudayaan, maka masyarakat harus bisa menarik wujud itu ke dalam prespektif yang kecil, maka disitulah nantinya kita akan memahami bagaimana orang yang berbudaya. Saat ini memang lahir budaya dan entitas baru, tapi saya meyakini entitas budaya betawi sendiri tak akan hilang karena dilestarikan oleh orang-orang betawi melalui proses rekayasa atau secara natural dalam Kehidupan," pungkasnya.


Di lain pihak, Prof Prima Gusti Yanti selaku Kaprodi PBSI FKIP Uhamka mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah telah memasukkan nilai kearifan lokal dalam kurikulum. Di PBSI sendiri, nilai-nilai itu telah diterapkan pada mata kuliah yang berhubungan dengan folklore atau kesenian. Menurutnya, Bahasa Indonesia merupakan mata kuliah pengembang kepribadian, budaya betawi merupakan aspek yang dimasukkan ke dalam mata kuliah tersebut. Selain itu, lembaga pendidikan perlu bertanggung jawab dalam melestarikan budaya ini kepada mahasiswa.


"Globalisasi harus kita hadapi, tapi di sisi lain harus kita siapkan agar akarnya menjejak. Di sisi lain pemerintah mulai memasukkan kearifan lokal dalam kurikulum, itu sama-sama kita pahami dengan Kurikulum Merdeka. Jadi saya melihat bahwa budaya betawi ini berpotensi maka kita masukkan ke kurikulum kita. Kita juga banyak seni nya selain bahasa. Saya pikir kita semua cemas bahwa globalisasi ini mengikis segalanya termasuk budaya, kita sebagai lembaga pendidikan tentu memiliki tanggung jawab untuk membuat mahasiswa kita tetap mengingat budaya," tegasnya.


PBSI FKIP Uhamka yang kini berlokasi di Jl. Tanah merdeka, Ciracas, Jakarta Timur merupakan 1 dari 12 Program Studi yang ada di FKIP Uhamka telah terakreditasi UNGGUL, sepantasnyalah PBSI bersama FKIP Uhamka akan terus mempertahan budaya Betawi. Mari bergabung bersama PBSI serta 11 Program Studi di FKIP Uhamka melalui tautan berikut https://uhamka.ac.id/reg/ dan https://linktr.ee/uhamka

=