Notification

×

Iklan

Iklan

Kenalkan Sabun Herbal di Pulau Pari, Dosen Farmasi FFS Uhamka adakan Pengmas

Senin, 27 Juni 2022 | Senin, Juni 27, 2022 WIB | Last Updated 2022-06-27T14:17:38Z

Serambiupdate.com
- Dosen Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi dan Sains (FFS) Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (Uhamka) bersama Lembaga Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Uhamka mengadakan pengabdian masyarakat untuk mengenalkan sabun herbal di Pulau Pari. Kegiatan ini bertepatan dengan hari ulang tahun kota Jakarta ke-495 sebagai kota Kolaborasi, Akselerasi, dan Elevasi pada Rabu (22/6).

Kegiatan ini diketuai oleh Rindita dan Tahyatul Bariroh sebagai anggota, kemudian untuk peserta berasal dari komunitas pengajian Ibu-Ibu Pulau Pari dengan kisaran umur bervariasi.

Tujuan dari pengenalan ini adalah untuk memberikan alternatif produk sabun yang dapat meminimalisir dampak deterjen terhadap lingkungan laut sekitar Pulau Pari dan juga mengurangi resiko terjadinya iritasi pada kulit akibat penggunaan deterjen. 

Rindita selaku dosen Farmasi FFS Uhamka menyampaikan bahwa bahan dasar yang dapat digunakan dalam pembuatan sabun herbal adalah minyak kelapa (VCO), minyak kelapa sawit, minyak zaitun, NaOH, pelarut berupa aquades, minyak esensial dari tanaman berkhasiat obat, dan pewarna jika diinginkan. Ia juga mengatakan alat-alat yang digunakan tidak sulit dicari, yaitu timbangan, mangkok-mangkok, dan pengaduk. Namun, karena akan NaOH merupakan bahan yang dapat menimbulkan reaksi panas, maka dalam membuat sabun harus menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan masker. 

"Dalam membuat sabun herbal, pelarut aquades dapat diganti dengan larutan berbahan dasar nabati lainnya seperti air teh hijau, air kopi, dan air rebusan rimpang kunyit. Berdasarkan penelitian, rimpang kunyit dapat  digunakan untuk mengobati penyakit kulit, jelas narasumber yaitu Ibu Rindita. Minyak atsiri atau minyak esensial ditambahkan pada adonan untuk memberikan efek antibakteri dan aromaterapi, sehingga efeknya sangat baik untuk kulit. Karena semua bahan tersebut alami, maka dampak negatif bagi lingkungan menjadi tidak ada," tutur Rindita.

Rindita berharap sabun yang dapat dibuat sendiri atau bersama-sama dalam suatu komunitas dapat meningkatakan kreatifitas juga ekonomi bagi warga di Pulau Pari.



×
Berita Terbaru Update