Notification

×

Iklan

Iklan

Stigma Masyarakat terhadap Kesehatan Mental

Kamis, 07 Oktober 2021 | 10/07/2021 04:02:00 PM WIB | Last Updated 2021-10-07T09:02:02Z



Karya Chadela Vindriyanti Putri

Mahasiswa S1 Bahasa Inggris FKIP Uhamka

Kesehatan mental merupakan sesuatu yang perlu kita jaga seperti halnya kesehatan fisik. Kita dapat menjaga kesehatan fisik dengan makan sehat, berolahraga dan menjaga jadwal tidur yang sehat. Dan untuk dapat meningkatkan kesehatan mental, kita dapat melakukannya dengan berjalan-jalan di luar, menghabiskan waktu bersama teman atau melakukan sesuatu yang kita sukai. Setiap orang terkadang butuh istirahat, dan itu tidak mengapa karena pada nyatanya, seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental sering menghadapi stigma buruk masyarakat.

Kata "penyakit mental" sering mengacu pada gangguan mental yang biasanya didiagnosis di orang dewasa dan dapat mencakup gangguan mood, kepribadian, dan psikotik, dan lain-lain. Beberapa gangguan ini termasuk depresi, gangguan bipolar, gangguan kecemasan umum, OCD dan skizofrenia. Sama halnya seperti penyakit fisik, gangguan kesehatan mental juga dapat menyebabkan kondisi serius jika tidak diwaspadai. Sayangnya, masih banyak stigma terhadap pengidap gangguan kesehatan mental di masyarakat. Misalnya, dianggap sebagai orang gila yang harus dijauhi, atau bahkan dikucilkan di masyarakat. Padahal, tingginya angka pengidap gangguan kesehatan mental di Indonesia ada kaitannya dengan tingginya kejadian bunuh diri.

Stigma atau penilaian negatif terhadap pengidap gangguan kesehatan mental sebenarnya bukan hal yang baru. Bahkan, tak jarang stigma tersebut juga menyerang keluarga pengidap. Beberapa stigma terhadap pengidap gangguan kesehatan mental yang sering dijumpai dapat berupa, diskriminasi langsung dan diskriminasi halus yang terlihat frontal dan kasar. Misalnya, perlakuan kasar maupun kata-kata hinaan yang dilontarkan pada pengidap maupun keluarganya. atau diskriminasi halus, seperti pengucilan pengidap gangguan kesehatan mental secara diam-diam atau tidak sengaja.

Mungkin kita tidak bisa mengendalikan penilaian orang lain tentang diri kita. Namun, kita dapat mengubah pola pikir dan menghadapinya dengan lebih bijak. Termasuk ketika dihadapkan oleh stigma terhadap gangguan kesehatan mental, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan terutama seseorang yang menghadapi stigma kesehatan mental. Yaitu dengan mencari advokat yang dapat mendukung mereka dengan masalah pekerjaan dan masalah keuangan. Mereka juga dapat mendidik orang lain dengan berbagi cerita untuk mempromosikan pemahaman yang lebih luas tentang kondisi kesehatan mental.

Pada dasarnya, setiap orang memiliki peran dalam menyebarkan stigma kesehatan mental. Orang-orang harus mendidik diri mereka sendiri tentang masalah kesehatan mental, dan lebih memahami seperti apa kehidupan bagi mereka yang hidup dengan kondisi ini. Dengan melakukan itu, mereka dapat membantu menghilangkan mitos dan stereotip yang umum dipegang baik dalam diri mereka sendiri maupun orang lain. Melalui pendidikan dan pemahaman, kita dapat menghilangkan stigma seputar penyakit mental, dan ada dukungan yang tersedia bagi orang-orang yang saat ini mengalami stigma.


=