Notification

×

Iklan

Iklan

Meningkatkan Pendidikan Berkualitas dalam Program Merdeka Belajar

06 Oktober 2022 | Kamis, Oktober 06, 2022 WIB | Last Updated 2022-10-06T06:32:43Z


Serambiupdate.com Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Anindito Aditomo mengungkapkan tujuan besar program Merdeka Belajar adalah untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas sehingga peserta didik lebih kompeten dan berkarakter.

 

"Pendidikan berkualitas adalah memastikan peserta didik mengalami kemajuan belajar sehingga lebih kompeten dan berkarakter," ucapnya dalam webinar bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bertema "Tren Pendidikan Masa Depan: Peluang dan Tantangan" diikuti di Jakarta, Selasa (4/10).

 

Dirinya menjelaskan hal ini pendidikan berkualitas yang adil bagi semua ada dalam kebijakan pendidikan yang juga termasuk dalam Sutainable Development Goals (SDGs) keempat

 

Kemendikbudristek merumuskannya dalam Profil Pelajar Pancasila yaitu, Pendidikan berkualitas berfokus pada pengembangan kompetensi dasar dan karakter siswa.

 

"Kita punya rumusan namanya Profil Pelajar Pancasila, itu merupakan dimensi dari kompetensi dasar dan karakter yang ingin kita tumbuh kembangkan melalui pendidikan," jelasnya.

 

Selanjutnya, Anindito menjelaskan kesempatan menikmati pendidikan berkualitas harus dirasakan oleh semua murid merupakan aspek kedua dari tujuan Merdeka Belajar yang berbentuk keadilan

 

"Terlepas dari mana dia tinggal di Indonesia, terlepas dari agama, latar belakang budaya, dan sosial ekonomi dia," ucapnya.

 

Mantan peneliti Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) ini, mengatakan alasan Kemendikbudristek memfokuskan pada pengembangan kompetensi dasar dan karakter karena pendidikan di Indonesia sudah lama mengalami krisis belajar dan tidak membaik dari tahun ke tahun.

 

Karakter pendidikan di Indonesia ynag sudah mengalami krisis belajar dan tidak membaik dari tahun ke tahun, hal tersebut yang membuat Mantan peneliti Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) ini, mengatakan alasan Kemendikbudristek memfokuskan pada pengembangan kompetensi dasar dan karakter

 

Dari data PISA (Programme for International Student Assessment) yang ia kutip, sampai 20 tahun terakhir menunjukkan kecakapan dasar hasilnya masih stagnan, seperti kemampuan memahami bacaan, kemampuan menyelesaikan problem menggunakan matematika sederhana dan kemampuan menalar secara ilmiah.

 

"Hanya sekitar 30 persen siswa kita yang memenuhi standar minimun kemampuan membaca, problem solving matematika dan literasi sains. Itu tidak bergerak sejak 20 tahun terakhir. Setelah pandemi krisis belajar menjadi semakin parah," ucapnya.

 

Kurikulum Merdeka memiliki tiga kelebihan yang dapat mendukung pemulihan dari krisis belajar yaitu guru lebih fleksibel dalam melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid, pembelajaran berbasis pengembangan karakter dan soft skill, dan fokus pada materi esensial.

 

Kurikulum Merdeka memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi serta mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa.

 

Dengan program regulasi dan berbagai intervensi yang dilakukan pemerintah untuk mampu memantik transformasi di tiap-tiap satuan pendidikan maka Program Merdeka Belajar bisa terwujud.

 

Transformasi tersebut berupa perangkat ajar seperti kurikulum, buku teks untuk daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) yang sulit mengakses internet dan alat asesmen kelas serta pengembangan sumber daya manusia yaitu mengembangkan kapasitas guru dan kepala sekolah.

 

Kategori ketiga mengubah satuan pendidikan dengan evaluasi dan penjaminan mutu sistem pendidikan, sedangkan terakhir adalah SDM dari pemerintah daerah sebagai penerjemah regulasi dari pemerintah pusat.

 

"Selain program yang substantif, kita juga harus menata regulasi dan tata kelolanya, infrastruktur teknologi dan sarana prasarana dan mekanisme pendanaan," jelas Nino.

DYL_RPH

=