Notification

×

Iklan

Iklan

KH Ahmad Dahlan dan Pelajaran Yang Ditinggalkan untuk Muhammadiyah

Jumat, 19 November 2021 | Jumat, November 19, 2021 WIB | Last Updated 2021-11-19T05:31:22Z


Serambiupdate.com 
Siapa yang tidak tahu KH Ahmad Dahlan, tokoh besar Muslim Indonesia yang bersama istrinya, Nyai Ahmad Dahlan, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Kiai Dahlan di Kauman Yogyakarta tahun 1285 H atau 1868 M, dan wafat pada 1340 H bertepatan dengan 1923 M.


Kiai Dahlan yang memiliki nama kecil “Muhammad Darwis” mendalami ilmu agama di Makkah. Ia merasa terpanggil untuk mengatasi kemunduran dan keterbelakangan umat Islam di Tanah Air. Dalam kiprah perjuangannya sepanjang hayat Kiai Dahlan diakui sebagai pelopor modernisme pendidikan Islam di Indonesia.


Sepulang dari Makkah, Kiai Dahlan diangkat menjadi Khatib Amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta. Tetapi ia merasa terpanggil dan bertanggungjawab untuk membangunkan, menggerakkan, dan memajukan umat. Ia pun sadar bahwa cita-cita pembaharuan tidak mungkin dilaksanakan seorang diri.


Karena itu, Kiai Dahlan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah di Yogyakarta. Organisasi modernis Islam tertua dan terbesar itu didirikan pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912.


Sedikitnya tiga faktor yang mendorong lahirnya Muhammadiyah, sebagaimana dikemukakan Prof Dr Hamka yaitu: Pertama, keterbelakangan dan kebodohan umat Islam Indonesia di hampir semua bidang kehidupan. Kedua, kemiskinan yang diderita umat Islam. Ketiga, kondisi pendidikan Islam yang tradisional dan terbelakang di masa itu.


Sang pencerah Kiai Dahlan menginginkan umat Islam Indonesia mengamalkan dan menggerakkan agama dengan berorganisasi. Sosok yang gigih, penuh teladan dan kaya dengan inspirasi itu dikenang sebagai “reformer Islam di Indonesia” yang namanya harum dari awal sampai akhir.


Dalam buku Muhammadiyah dan Kebangunan Islam di Indonesia, Solichin Salam (1965) mengungkapkan Muhammadiyah mulai melangkah tidak dengan banyak bicara, akan tetapi terlebih dahulu berbuat dan beramal. Gerakan Muhammadiyah didirikan atas kesadaran dan rasa tanggung jawab terhadap hari depan agama, bangsa dan tanah air. Salah satu pernyataan Kiai Dahlan yang patut direnungkan, “Tidak mungkin Islam lenyap dari seluruh dunia, tapi tidak mustahil Islam hapus dari bumi Indonesia. Siapakah yang bertanggung jawab?”


Muhammadiyah mencita-citakan terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dalam dokumen otentik Anggaran Dasarnya tercantum tujuan awal Muhammadiyah, yaitu:

 “Menggembirakan dan memajukan pelajaran dan pengajaran Islam serta memajukan dan menggembirakan hidup sepanjang kemauan agama Islam”.


Karena itu, dalam bidang keagamaan Muhammadiyah berupaya mengembalikan kemurnian ajaran Islam berdasarkan Alquran dan Sunnah Nabi, serta memberantas perbuatan syirik dan bid’ah, menentang kultus individu maupun pemujaan terhadap roh dan benda-benda keramat.


Organisasi Muhammadiyah mencanangkan permulaan puasa dan Hari Raya dengan perhitungan hisab, memelopori pelaksanaan shalat Idul Fitri dan Idul Adha di lapangan sesuai contoh dari Nabi, mengorganisir pengumpulan zakat dan qurban setiap tahun, penerbitan buku dan majalah Suara Muhammadiyah, dan lain-lain. Muhammadiyah mengibarkan panjí-panji dakwah dengan kebijaksanaan dan kebaikan, dan bukan dengan kekerasan dan menjelekkan kelompok lain.


Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan Kiai Dahlan dan murid-muridnya dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, di samping melalui relasi dagang yang dimilikinya. Ulama-ulama dari berbagai daerah berdatangan untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah sehingga organisasi ini berkembang hampir di seluruh wilayah Indonesia. Kiai Ahmad Dahlan menjelaskan maksud mendirikan Muhammadiyah ialah hendak menyusun tenaga kaum muslimin untuk melaksanakan perintah agama Islam.


KH Ahmad Dahlan sudah menjadi panutan disetiap insan pendidikan di Indonesia, Khususnya di Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka. di UHAMKA sendiri sudah menanamkan nilai islami kepada mahasiswanya. KH Ahmad Dahlan dan Buya Hamka sebagai pendiri organisasi Muhammadiyah, sudah mewarisi karakter luar biasa dalam membangun suatu pergerakan keagamaan yang mampu bertahan hingga satu abad.


Bahkan, organisasi itu mampu berkembang luas mendirikan sekitar 150 perguruan tinggi dan ratusan lembaga sosial lainnya. "Jika generasi muda seperti dia, yang tidak hanya mencari kesuksesan dunia tetapi juga kebaikan untuk akhirat, sangat bagus. Perguruan tinggi seharusnya membentuk karakter mahasiswanya menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat," ujar Eks Rektor Uhamka, Almarhum Prof. Suyatno.


Sedangkan Buya Hamka merupakan seorang negarawan, agamawan, dan sastrawan. Hamka merupakan tokoh multitalenta yang mendapat pendidikannya secara otodidak, akan memotivasi generasi muda belajar dari berbagai hal untuk mencapai kesuksesan di masyarakat khususnya Mahasiswa dan para Masyarakat di lingkungan UHAMKA dimasa pandemi seperti sekarang ini, tentunya Buya Hamka dan KH Ahmad Dahlan lah yang terus menginspirasi para generasi UHAMKA untuk terus mengamalkan kebaikan tidak mengenal tempat dan waktu. 

×
Berita Terbaru Update