Notification

×

Iklan

Iklan

Kegiatan PLP 1 Mahasiswa PBSI FKIP UHAMKA di SMAN Unggulan M. H. Thamrin: Pembentukan Karakter dapat diarahkan

Kamis, 07 Oktober 2021 | 10/07/2021 07:05:00 PM WIB | Last Updated 2021-10-07T12:05:55Z


Serambiupdate.com Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA mengadakan Pengenalan Lapangan Persekolahan 1 (PLP 1) diperuntukkan kepada mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di semester 5. Salah satu kelompok yang berasal dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, melakukan Pengenalan Lapangan Pesekolahan 1 (PLP 1) dengan sekolah tujuan yakni, SMA Negeri Unggulan M. H. Thamrin. Dalam hal ini salah satu kelompok dari mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia melakukan kegiatan PLP 1 ini dengan dosen pembimbing Dr. Heni Ani Nuraeni, S.Ag., M.A. Dalam kelompok ini beranggotakan 7 orang mahasiswa di antaranya ialah, Rania Redhamutia, Syifa Fauziah Anwar, Nazwa Roeva, Rahmi Amelia Sholekha, Bella Aisyah Safitri, Risti Wulandari, dan Sefhia Rini Andeslin.


Pada kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan 1 (PLP 1) dilakukan observasi terhadap sekolah yang bersangkutan, dalam observasi terdapat kegiatan wawancara terhadap Kepala Sekolah serta Guru Pamong. Guru Pamong merupakan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri Unggulan M. H. Thamrin, hal ini bertujuan agar dalam wawancara saling memiliki keterkaitan dengan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan 1 (PLP 1) dilaksanakan secara luar jaringan, di mana mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia mengunjungi langsung SMA Negeri Unggulan M. H. Thamrin yang dilaksanakan pada senin, 27 September 2021.


Kegiatan observasi dilakukan sebagai bekal mahasiswa yang merupakan calon guru nantinya, maka dalam kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP 1) ini mahasiswa mencari mengenai informasi dari sekolah tersebut. Mulai dari bagaimana struktur yang ada di sekolah, kurikulum yang digunakan, metode pembelajaran secara daring ataupun luring, serta bagaimana cara kita sebagai guru nantinya untuk menghadapi hal tersebut.


Banyak hal yang dapat diambil dari kegiatan observasi yang dilakukan di SMA Negeri Unggulan M. H. Thamrin, salah satunya kutipan dari bapak Drs. Bahari Lubis, M.Pd. selaku Kepala Sekolah yang menyebutkan “Pembentukan karakter itu diarahkan, jadi sekarang itu kira-kira mereka lebih dihomogen kan, jadi siapa pun nanti kalian jadi guru mengarahkan itu gak akan mungkin sama semua, jadi misalnya ada 15 ekskul ya sudah kita arahkan mereka maunya ke mana, makanya sekarang itu karakternya itu di arahkan”. Dari kutipan tersebut menjelaskan bahwa dalam menangani peserta didik tidak bisa dipukul rata, karena setiap peserta didik punya karakter yang berbeda.


Lalu ada kutipan dari Guru Pamong yaitu bapak Muhammad Rieza Mufid, S.Pd. selaku guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri Unggulan M. H. Thamrin yaitu, “Kalau saya bilang tantangannya bukan hanya guru bahasa Indonesia ya, tapi tantangan untuk semua guru di Indonesia adalah bagaimana masyarakat kita itu punya penghargaan terhadap guru, penghargaan dalam arti kata bukan materi, tapi bagaimana mereka menganggap kita adalah juga manusia, kami juga punya kelemahan, nah maka dari itu kami sering tidak mendapatkan apresiasi yang baik dari masyarakat. Jadi kalau untuk tantangannya menjadi guru bahasa Indonesia dan untuk semua guru ya pasti seperti itu. Guru itu tidak boleh ketinggalan, ketika kamu ketinggalan, dan besok kamu dianggap gak paham oleh murid kamu, siap-siap kamu akan direndahkan. Dan anak-anak pintar itu merendahkannya paling jago, di depan kita baik pas di belakang kita musuh. Saya tidak menganggap bahwa semua anak-anak menghargai saya, ada beberapa yang tidak menghargai saya, ya itu saya anggap memang gak semua orang bisa suka sama kita dan gak papa, justru itu bisa kita jadikan sebagai motivasi, jangan kita benci, kalau kalian dapat orang yang membenci kalian, kalian temani, karena orang yang membenci kalian justru paling tahu tentang kelemahanmu”.


Dari kegiatan wawancara yang telah dilakukan kepada Kepala Sekolah maupun Guru Pamong, dapat menjadi bekal dan pelajaran untuk mahasiswa mempersiapkan diri sebagai tenaga pendidik di masa yang akan datang.

=